Apakah ChatGPT Membuat Kita Jadi Bodoh?
📅 Sabtu, 16 Agu 2025, 14:15 WIB | Oleh: Tim PenulisNamun, ketika AI digunakan sebagai alat bantu, AI dapat mendorong rasa penasaran, memunculkan ide-ide baru, dan membantu kita memahami topik yang kompleks. AI juga bisa menjadi teman berbicara yang pintar sehingga kita jadi berpikir kritis.
Cara menggunakan AI menentukan apakah kita akan jadi bodoh atau justru semakin ahli di bidang kita. AI generatif seharusnya digunakan untuk memperkuat kemampuan berpikir manusia, bukan menggantikannya.
Artinya kita menggunakan ChatGPT untuk mendukung proses pencarian jawaban, bukan untuk jalan pintas. Itu berarti memperlakukan respons AI sebagai ide awal (brainstorm), bukan hasil akhir.
AI, Cara Berpikir, dan Masa Depan Produktivitas
Sebaiknya Anda baca juga:
Membeludaknya penggunaan AI generatif didorong oleh pertumbuhan pesat ChatGPT yang mencapai 100 juta pengguna hanya dalam waktu dua bulan setelah peluncuran.
Demam ChatGPT ini membawa kita ke persimpangan jalan. Satu jalan mengarah ke penurunan intelektual karena kita membiarkan AI yang berpikir.
Jalan lainnya mengantarkan kita ke peluang mengembangkan kemampuan berpikir kita: bekerja bersama AI, memanfaatkan kekuatan teknologi untuk membuat kita berkembang.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kini sering disebut bahwa AI tak akan merebut pekerjaan kita, tetapi seseorang yang menggunakan AI dapat melakukannya. Namun, individu yang menggunakan AI tanpa berpikir kritis justru menjadi sosok yang paling mudah untuk tergantikan.
Jika memanfaatkan AI sebagai alat bantu, kita dapat memproduksi hasil yang tak bisa dihasilkan oleh manusia sendiri atau AI sendiri. Inilah arah masa depan kita.
Tulisan ini dimulai dengan sebuah pertanyaan apakah ChatGPT membuat kita jadi bodoh. Namun, saya ingin mengakhirinya dengan pertanyaan yang berbeda: Bagaimana menggunakan ChatGPT agar kita jadi lebih pintar?
Jawaban untuk kedua pertanyaan tersebut tak bergantung pada teknologinya, tapi pada penggunanya.
Aaron French, Assistant Professor of Information Systems, Kennesaw State University
Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!