Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Maraknya ‘Rojali’ hingga ‘Roh Halus’: Tren Sesaat atau Perlambatan Bisnis Ritel?

📅 Jumat, 15 Agu 2025, 12:20 WIB | Oleh: Tim Penulis

Dari sisi eksternal, ritel konvensional ditekan oleh platform digital yang menawarkan kenyamanan, harga bersaing, dan kemudahan pembayaran.

Shopee dan Tokopedia, misalnya, tak hanya menguasai e-commerce, tapi juga menciptakan ekosistem layanan (logistik, pembayaran, promosi, live shopping) sehingga pengalaman berbelanja online lebih menarik.

Diperkirakan total pendapatan e-commerce di Indonesia akan mencapai sekitar US$77 miliar (Rp1.250 triliun) pada 2029 dengan total pengguna 100 juta orang.

Namun, masalah ritel tak berhenti di sana. Kegalalan yang menerpa banyak pemain lama disebabkan oleh terlambatnya adaptasi.

Mereka masih mengandalkan model lama: toko fisik besar, diskon musiman, tanpa digitalisasi yang berarti. Saat konsumen berubah, model ini menjadi usang.

Hal ini diperparah dengan biaya operasional yang tinggi—mulai dari sewa mal, gaji pegawai, hingga inflasi bahan pokok—yang pada akhirnya memperkecil margin keuntungan.

Bahkan, saat diskon besar-besaran digelar, konsumen tetap berhitung. Mereka menahan diri, menunda pembelian, atau membeli secara online di tempat yang lebih murah.

Meski begitu, bukan berarti go online jadi solusi selamat dari kondisi ini. Pelaku e-commerce dan marketplace juga harus bisa memberikan pelayanan optimal dengan persaingan yang tidak kalah ketat dengan pembangunan mal-mal konvensional.

Tengok saja JD.ID—platform e-commerce asal Cina dengan tagline “pasti ori”. Marketplace ini berhenti beroperasi per 31 Maret 2023 di tengah dominasi Shopee, Tokopedia, dan Blibli yang lebih agresif secara promosi maupun teknologi.

Bukan Sekadar Laba Rugi

Bukan hanya perusahaan yang berdampak ketika sebuah gerai mal tutup. Ratusan hingga ribuan pekerja bisa kehilangan pekerjaan.

UMKM yang menjadi pemasok ritel besar juga ikut terdampak karena pemesanan turun drastis. Pusat perbelanjaan modern seperti mal dan pasar tradisional seperti Tanah Abang kini sepi pengunjung.

Tempat yang dulu menjadi pusat keramaian itu kini berubah menjadi tempat mejeng yang minim pembelian.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Megapolitan
Tangsel Otozone Jadi Sarana...
Advertisement
10 Event Jakarta Akhir Pekan 17-18 Oktober: Ada Synchronize Festival hingga BABYMONSTER

10 Event Jakarta Akhir Pekan 17-18 Oktober: Ada Synchronize Festival hingga BABYMONSTER

16 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.