Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Utang RI Semakin Tidak Produktif dan Terjebak Risiko Sistemik

📅 Selasa, 05 Agu 2025, 01:16 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Utang RI Semakin Tidak Produktif dan Terjebak Risiko Sistemik Doc: istimewa
Ket. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudisthira

JAKARTA - ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO) dalam keterangannya baru-baru ini menyatakan bahwa dari analisis berbasis data kondisi dan prospek ekonomi makro Indonesia, rasio utang Pemerintah dapat meningkat secara bertahap hingga sekitar 42 persen pada 2029 mendatang apabila tren fiskal saat ini terus berlanjut. 

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudisthira yang diminta menanggapi hasil analisis tersebut mengatakan kondisi utang Indonesia makin tidak produktif dan terjebak pada risiko sistemik.

“Yang dimaksud risiko sistemik ketika rasio bunga utang melebihi belanja kesehatan atau saat ini mencapai lebih dari 250 persen,” jelas Bhima.

Selain itu, porsi bunga utang terhadap pendapatan pajak mencapai 25 persen. Jadi sudah kategori tidak sehat.

“Tanpa melakukan upaya mitigasi risiko utang, maka ada bahaya fiskal yang siap menghambat pertumbuhan ekonomi,” kata Bhima memperingatkan.

Pada kesempatan lain, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti sepakat bahwa tanpa upaya mitigasi yang tepat Indonesia bisa seperti Srilangka.

“Makanya Indonesia harus melakukan manajemen utang. Jika mau naikkan rasio utang terhadap PDB harus diimbangi dengan penerimaan,” kata Esther.

Menurut Esther, pola pembangunan ekonomi RI memang membawa negara terjebak pada utang. Tiongkok menggunakan pendekatan mikro-utama dalam mentransformasi perekonomiannya. Reformasi ekonomi dilakukan secara bertahap dengan melibatkan pelaku domestik.

“Tiongkok tidak meliberalisasi perekonomiannya tanpa persiapan,” urainya.

Indonesia mengambil pendekatan yang sama sebelum krisis 1997/1998. Namun, Indonesia membiayai reformasi ekonominya melalui utang luar negeri, sementara Tiongkok melakukannya dengan investasi asing langsung.

Perbedaan sumber pembiayaan pembangunan menempatkan Indonesia dan Tiongkok pada jalur pembangunan ekonomi yang berbeda. Pada awal pembangunannya, Indonesia terjebak oleh utang luar negeri, faktor utama dalam dampak krisis moneter yang parah pada tahun 1997/1998.

“Sejak 1997/98, Indonesia mengadopsi pendekatan makro-utama yang dipimpin oleh International Monetary Fund (IMF). Pendekatan ini menekankan liberalisasi dan privatisasi. Kenyataannya, perekonomian domestik Indonesia terlalu rapuh untuk bersaing dengan negara lain,”tandas Esther.

Reformasi Fiskal

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata meminta Pemerintah agar lebih konsisten dalam menjalankan reformasi fiskal guna menghadapi tekanan utang yang semakin besar.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Advertisement
jjroyal-luwak
Nasional
55 Juta Warga Pantura Teran...
Advertisement
Kerusuhan Pecah di Milan, Toko-toko Dijarah Massa

Kerusuhan Pecah di Milan, Toko-toko Dijarah Massa

19 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.