Kebergantungan Impor dan Alih Fungsi Lahan Hambat RI Swasembada Pangan
📅 Kamis, 24 Jul 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: antara
JAKARTA - Kemampuan suatu negara untuk memenuhi kebutuhan pangannya sendiri menjadi indikator penting dalam mengukur ketahanan nasional, terutama di tengah krisis pangan global dan perubahan iklim yang mengancam pasokan bahan makanan.
Sebuah penelitian oleh tim dari Universitas Göttingen (Jerman) dan Universitas Edinburgh (Skotlandia) yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Food menunjukkan, dari 186 negara yang diteliti, hanya Guyana yang berhasil mencapai swasembada penuh.
Sedangkan, Indonesia berada di posisi tengah, yakni mampu mencapai swasembada pangan dalam empat dari tujuh kelompok makanan. Hal tersebut membuat Indonesia setara dengan Myanmar dan Thailand yang juga memenuhi empat dari tujuh kelompok makanan.
Secara detail, Indonesia mampu memenuhi kebutuhan buah sebanyak 108 persen dari total konsumsi nasional, sayur sebanyak 41 persen, kacang-kacangan 187 persen, biji-bijian berpati sebanyak 172 persen, daging sebanyak 90 persen, ikan sebanyak 166 persen, sedangkan susu 0 persen.
Indonesia dianggap belum mencapai swasembada penuh salah satunya disebabkan tingginya jumlah penduduk, kemudian ketergantungan pada impor untuk pangan tertentu, alih fungsi lahan, distribusi tidak merata, dan produktivitas pertanian yang masih rendah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Meskipun Indonesia mampu memenuhi beberapa kategori konsumsi dalam negerinya, impor masih menjadi jalan yang dipilih pemerintah untuk memasok kebutuhan. Hal itu karena untuk beberapa komoditas, harga barang impor lebih murah daripada harga produksi dalam negeri.
Transformasi Pertanian
Menanggapi hasil penelitian tersebut, Guru Besar Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Dwijono Hadi Darwanto mengatakan bahwa capaian itu menunjukkan arah yang benar, meski swasembada penuh belum tercapai.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kita memang belum swasembada penuh karena pertumbuhan penduduk relatif lebih cepat dibanding pertambahan produksi pangan,” katanya. Namun kondisi ini dapat dimengerti mengingat berbagai kendala yang masih dihadapi sektor pertanian nasional.
Salah satu tantangan utama adalah alih fungsi lahan pertanian yang terus terjadi di berbagai wilayah, terutama di kawasan urban dan pinggiran kota. Selain itu, aktivitas pemuliaan tanaman untuk menghasilkan varietas unggul yang adaptif terhadap perubahan iklim juga masih terbatas.
“Kita belum sepenuhnya mampu menghasilkan varietas-varietas baru yang tahan terhadap cekaman lingkungan, padahal itu penting dalam menjawab tantangan zaman,” ungkapnya.
Permasalahan lain yang juga menghambat adalah rusaknya jaringan irigasi dan minimnya investasi dalam perbaikan infrastruktur pertanian.
“Produktivitas kita juga terganggu oleh ketidakseimbangan penggunaan lahan. Misalnya, ketika petani memprioritaskan satu komoditas pangan, maka produksi pangan lain bisa menurun. Ini adalah konsekuensi logis dari terbatasnya lahan dan sumber daya,” jelasnya.
Meski demikian, tanda-tanda positif mulai terlihat di berbagai daerah. Adopsi teknologi pertanian modern seperti penggunaan drone untuk penanaman dan pengendalian hama telah dilakukan oleh sejumlah petani, terutama di daerah yang kekurangan tenaga kerja. Hal itu menandakan bahwa transformasi pertanian menuju era digital mulai tumbuh dan harus didukung secara sistematis.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!