Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Tarif AS 19 Persen, Industri Padat Karya Siap Tancap Gas!

📅 Kamis, 17 Jul 2025, 13:37 WIB | Oleh: Tim Penulis
Tarif AS 19 Persen, Industri Padat Karya Siap Tancap Gas! Doc: ANTARA/ Xinhua Hu Yousonga.
Ket. Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunjukkan perintah eksekutif tentang tarif timbal balik di Rose Garden, Gedung Putih, Washington, DC, Amerika Serikat.

JAKARTA – Tarif resiprokal 19% yang disepakati antara Indonesia dan Amerika Serikat adalah penting karena memiliki dampak positif dan negatif terhadap perekonomian Indonesia.

Di satu sisi, penurunan tarif ini membuka peluang ekspor yang lebih besar ke pasar AS, mendukung pertumbuhan industri dalam negeri, dan menciptakan investasi baru.

Di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa produk pertanian dan industri AS yang masuk dengan tarif lebih rendah dapat mengancam industri dan pertanian lokal.

Analis Macquarie Sekuritas Indonesia Ari Jahja berpendapat tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) yang turun menjadi 19 persen dari semula 32 persen menjadi angin segar bagi sektor padat karya, terutama tekstil, alas kaki, dan peralatan elektronik.

Sektor-sektor itu diketahui menyumbang 42 persen dari total ekspor Indonesia ke AS.

Dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (17/7), Ari mengatakan keputusan tersebut memberikan keunggulan kompetitif bagi Indonesia di pasar AS, menempatkan Indonesia di posisi yang relatif lebih baik dibanding banyak negara pesaing.

Menurutnya, jika dibandingkan dengan negara-negara eksportir utama ke Amerika, maka tarif Indonesia jauh lebih rendah.

Untuk kategori tekstil, misalnya, Indonesia hanya dikenakan tarif 19 persen, lebih rendah dari Vietnam (20 persen), India (26 persen), hingga China yang dikenakan tarif 55 persen. Bahkan, beberapa negara seperti Bangladesh dan Kamboja dikenakan tarif masing-masing 35 persen dan 36 persen.

Keputusan AS memangkas tarif ini dinilai sangat krusial dalam menjaga daya saing Indonesia di tengah ketatnya persaingan perdagangan global.

Sebagai bagian dari kesepakatan dagang, Indonesia juga berkomitmen membeli produk energi asal AS senilai 15 miliar dolar AS, produk pertanian seperti gandum dan kedelai senilai 4,5 miliar dolar AS, dan 50 unit pesawat Boeing.

Ari melihat kesepakatan itu sebagai langkah strategis untuk memperkuat hubungan ekonomi bilateral sekaligus mengamankan akses ekspor utama Indonesia.

"Kita memang tidak mengenakan tarif pada ekspor AS, namun imbal baliknya Indonesia mendapatkan akses yang lebih besar dan stabil ke pasar AS," ujarnya.

Meski begitu, Ari mengingatkan bahwa kesepakatan tarif resiprokal itu perlu diiringi dengan deregulasi di dalam negeri agar momentum ini bisa dioptimalkan.

"Deregulasi tetap menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing ekspor Indonesia secara menyeluruh," tutur Ari.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Dibayangi Eskalasi Geopolitik, 10 Agustus 2026
    Preview komentar:
    Fluktuasi nilai tukar Rupiah yang rentan terhadap kebijakan ...
  • Logistik Hijau Dinilai Kunci Menangkan Persaingan Industri
    Preview komentar:
    Inisiatif mulia dari Kementerian Kehutanan terkait optimalisasi rute ...
  • ESDM: Efisiensi Energi Bisa Pangkas 37 Persen Emisi Sektor Energi, Industri Makin Untung
    Preview komentar:
    Langkah proaktif pemerintah melalui program percontohan SETI ini ...
Advertisement
astra2
Advertisement
gaia musik festival
Luar Negeri
Jerman Batasi Ruang Gerak d...
Luar Negeri
Inggris Berantas Habis Disk...
Daerah
BMKG: Kaltim Berpotensi Ala...
Advertisement
gaia musik festival
Prabowo Ajukan Destry Damayanti Jadi Gubernur BI, Namanya Tunggal ke DPR

Prabowo Ajukan Destry Damayanti Jadi Gubernur BI, Namanya Tunggal ke DPR

10 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.