Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Perubahan Iklim, Cuaca Makin Ekstrem, Saatnya Rombak Sistem Tata Kelola Air Kita!

📅 Senin, 14 Jul 2025, 14:50 WIB | Oleh: Tim Penulis

Artinya, penyesuaian jadwal tanam berbasis kondisi nyata bukan hanya menghemat air, tetapi juga meningkatkan hasil panen secara signifikan.


  • Desentralisasi

Saat ini, sebagian besar sistem air Indonesia sangat bergantung pada satu sumber besar seperti sungai atau bendungan utama. Hal ini membuat seluruh jaringan menjadi sangat rentan ketika sumber besar tersebut tergangggu.

Kita perlu mendorong pendekatan desentralistik, yakni pengelolaan air secara mandiri di tingkat lokal atau individu. Caranya bisa melalui penampungan air hujan, sistem penyimpanan lokal (rain tank), dan sumur resapan di rumah, sekolah, kantor, serta fasilitas publik lainnya.

Selain mengurangi tekanan pada sistem pasokan air terpusat dan memperkecil risiko gangguan layanan saat terjadi bencana atau kerusakan infrastruktur utama, pengelolaan air hujan seperti ini penting untuk ketahanan air jangka panjang.

Selain itu, sistem ini juga bisa membantu mengelola limpasan air hujan secara lebih efektif, sehingga banjir lebih mudah dicegah.

Pemerintah DI Yogyakarta sudah mulai melakukan pendekatan ini dengan membangun lebih dari 2.700 sumur resapan di kawasan pemukiman.

Dampaknya sudah terasa. Contohnya di kawasan Pogung Baru, Sleman, pembangunan sumur resapan mampu mengurangi limpasan air hingga sekitar 70%. Sementara di area kampus UGM, debit air permukaan menurun antara 5–11%.

Di Lampung, tim Institut Teknologi Sumatra (ITERA) bekerja sama dengan sekolah-sekolah dasar membangun sistem pemanenan air hujan. Hasilnya, air hasil tangkapan cukup untuk keperluan domestik sekolah dan mengurangi ketergantungan pada air tanah.


  • Terintegrasi lintas sektor dan wilayah

Air tak mengenal batas administrasi. Namun pengelolaan air di Indonesia masih terkotak-kotak antara pusat dan daerah, antarkementerian, bahkan antar instansi di satu wilayah.

Solusi jangka panjang pengelolaan air membutuhkan integrasi lintas sektor dan tata ruang, pertanian, lingkungan, dan masyarakat.

Dalam hal ini, pemerintah pusat harus menjadi koordinator utama, menetapkan standar nasional. Pemerintah juga perlu membangun sistem pemantauan berbasis data.

Indonesia memang mempunyai Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2019 yang mengatur tata kelola air. Namun, pelaksanaannya masih lemah.

Kita tertinggal jauh dengan Singapura yang sudah menerapkan Four Taps Strategy. Melalui strategi ini, Singapura mnerapkan diversifikasi sumber air nasional mencakup daerah tangkapan lokal, air impor, air daur ulang, dan desalinasi, untuk memastikan ketahanan air jangka panjang.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Megapolitan
DKI Perluas Pelatihan Kerja...
Nasional
DPR Minta Kepala BGN Baru F...
Nasional
Huntara di Langkahan roboh ...
Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
Ekonomi
Nilai tukar rupiah terendah...

Operasi uji emisi kendaraan di Tangerang

54 menit yang lalu | Wahyu AP

Megapolitan
Operasi uji emisi kendaraan...
Megapolitan
Pemkot Jakut Vaksinasi Ribu...
Ekonomi
Industri sepatu rumahan kua...

Pelaksanaan program penghapusan bentor

59 menit yang lalu | Wahyu AP

Nasional
Pelaksanaan program penghap...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.