Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Perubahan Iklim, Cuaca Makin Ekstrem, Saatnya Rombak Sistem Tata Kelola Air Kita!

📅 Senin, 14 Jul 2025, 14:50 WIB | Oleh: Tim Penulis
Perubahan Iklim, Cuaca Makin Ekstrem, Saatnya Rombak Sistem Tata Kelola Air Kita! Doc: The Conversation
Ket. Subak Bali.

Muhammad Hakiem Sedo Putra, Institut Teknologi Sumatera

Perubahan iklim membuat cuaca ekstrem makin sering terjadi. Sayangnya, sistem tata kelola air kita belum siap menghadapinya.

Mayoritas infrastruktur dan sistem pengelolaan air di Indonesia masih dibangun berdasarkan asumsi lama saat iklim relatif stabil, belum mempertimbangkan skenario perubahan iklim.

Hal ini terlihat dari bagaimana infrastruktur seperti bendungan, tanggul, dan sistem irigasi dirancang dengan mengacu pada pola curah hujan dan suhu yang stabil. Padahal, cuaca kini tak menentu.

Akibatnya, sistem yang kita miliki mudah kolaps saat menghadapi cuaca ekstrem. Ketika hujan lebat mengguyur, jalan-jalan utama bisa tergenang hanya dalam hitungan jam. Sebaliknya, ketika kemarau datang, banyak wilayah mengalami kekeringan dan kekurangan air bersih.

Butuh pendekatan baru

Untuk menghadapi cuaca ekstrem dan krisis iklim, kita perlu merombak sistem tata kelola air menjadi lebih luwes, tersebar, dan terpadu, dengan melibatkan partisipasi masyarakat.


  • Sistem yang luwes

Sistem air masa depan harus mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang terus berubah.

Salah satu contohnya ada di Bali. Beberapa kelompok subak—sistem irigasi tradisional berbasis komunitas—mulai menyesuaikan jadwal tanam berdasarkan curah hujan terkini.

Dengan sistem ini, air irigasi tidak perlu membanjiri sawah secara terus-menerus. Kelompok subak membasahi lahan secara bergilir sesuai kebutuhan tanaman dan kondisi iklim.

Metode ini dikenal sebagai intermittent flooding atau nyorog, meninggalkan kalender musiman konvensional.

Data lapangan menunjukkan penerapan sistem pengairan selang-seling ini menghasilkan rata-rata panen padi 10,9 ton per hektare. Hasil panen tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan sistem pengairan terus-menerus atau FLD yang hanya menghasilkan 6,35 ton per hektare.

Studi di Subak Guama mencatat peningkatan efisiensi penggunaan air irigasi dari 69,05% menjadi 86,52% melalui strategi nyorog—membagi jadwal tanam dalam empat kelompok bergilir per setengah bulan. Teknik ini juga mampu menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 85% dan meningkatkan hasil panen hingga 72%.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Ekonomi
Antrean BBM Jadi Sorotan, G...
Olahraga
Liverpool Gagal Menang di A...
Advertisement
Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

12 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.