Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

HPP Gabah Meroket, HET Beras Jangan Ketinggalan Kereta!

📅 Senin, 14 Jul 2025, 23:15 WIB | Oleh:
HPP Gabah Meroket, HET Beras Jangan Ketinggalan Kereta! Doc: ANTARA/Abdan Syakura.
Ket. Pekerja menimbang beras hasil serapan di Gudang Bulog Utama, Kota Cimahi, Jawa Barat, Kamis (10/7/2025).

JAKARTA- Pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia Khudori mengatakan pemerintah perlu menyesuaikan harga eceran tertinggi (HET) beras di pasaran, menyusul kenaikan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah di tingkat petani menjadi Rp6.500 per kg.

Dalam sebuah diskusi yang digelar Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) di Jakarta, Senin (14/7), Khurori menyebut penyesuaian HET sangat penting untuk menyeimbangkan insentif di seluruh rantai pasok dan menstabilkan harga beras sebagai komoditas pokok.

Menurut Khudori, ada ketidakseimbangan antara HPP gabah yang telah naik dan HET beras medium yang hanya mengalami sedikit kenaikan, jauh di bawah proporsi kenaikan harga gabah sebagai bahan bakunya.

“Tak masuk akal jika HPP gabah naik, tetapi HET beras tidak disesuaikan,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa dengan biaya produksi 1 kg gabah yang mencapai Rp4.836 per kilogram, petani memang diuntungkan dengan HPP Rp6.500, meraup keuntungan sekitar 34 persen. Namun, keuntungan ini tidak sampai ke pelaku di hilir, seperti penggiling dan pedagang beras.

Khudori menjelaskan mereka terpaksa membeli gabah dengan harga tinggi di pasar, bahkan mencapai Rp7.500—Rp8.000 per kg di beberapa tempat. Namun, saat menjual beras, mereka terikat HET yang rendah sehingga berpotensi rugi.

Kondisi ini, lanjut dia, membuat penggilingan mengurangi pasokan beras ke pasar, yang justru bisa memicu kelangkaan dan kenaikan harga beras.

Selain itu, Khudori menyebut stok beras di gudang Bulog yang melimpah tetapi minim penyaluran juga turut berkontribusi pada ketidakstabilan harga. Masyarakat pun merasakan dampaknya dengan harga beras eceran yang melampaui HET dan menjadi penyumbang inflasi selama lima bulan berturut-turut, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS).

Data Panel Harga Badan Pangan Nasional (Bapanas) menunjukkan sepanjang Juni 2025, rata-rata harga beras medium di tingkat konsumen mencapai Rp13.995 per kg, melampaui HET sebesar Rp12.500 per kg. Sementara itu, rata-rata harga beras medium di tingkat produsen (penggilingan) mencapai Rp12.800 per kg, dari HPP nasional Rp12.000 per kg.

Oleh karena itu, penyesuaian HET beras dianggap sebagai langkah krusial. Khudori juga menyarankan pemerintah untuk mengintegrasikan kembali kebijakan perberasan dari hulu ke hilir, menghentikan pengadaan beras melalui skema maklon yang dinilai mahal, serta menciptakan outlet lain beras selain Bulog.

“Tugas pemerintah bukan hanya memastikan stok, tetapi juga memastikan keterjangkauan. Jadi, harga harus terjangkau,” tuturnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Advertisement
jjroyal-luwak
Advertisement
Karhutla Bromo Memakan Korban Jiwa, Tiga Pahlawan Pemadam Gugur Saat Pertaruhkan Nyawa

Karhutla Bromo Memakan Korban Jiwa, Tiga Pahlawan Pemadam Gugur Saat Pertaruhkan Nyawa

15 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.