Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Psikiater Sebut Trauma Bisa Menular pada Orang-orang Terdekat

📅 Minggu, 13 Jul 2025, 16:00 WIB | Oleh:
Psikiater Sebut Trauma Bisa Menular pada Orang-orang Terdekat Doc: ANTARA/Fitra Ashari
Ket. Dokter spesialis kejiwaan (psikiater) lulusan Universitas Sebelas Maret Surakarta dr. Jiemi Ardian Sp.KJ dalam acara peluncuran buku "Pulih dari Trauma" di Gramedia Jalma, Jakarta, Minggu (13/7).

Jakarta -- Dokter spesialis kejiwaan (psikiater) lulusan Universitas Sebelas Maret Surakarta dr. Jiemi Ardian Sp.KJ mengatakan trauma bisa "menular" kepada orang terdekat yang memiliki hubungan personal karena paparan cerita traumatis terus menerus yang disebut dengan secondary trauma.

"Misalnya saya mendengar ibu saya ngalamin apa atau teman dekat saya ngalamin apa, kedekatan itu yang memungkinkan (secondary trauma)," kata Jiemi dalam acara peluncuran buku "Pulih dari Trauma" di Gramedia Jalma, Jakarta, Minggu.

Dia mengatakan kalau pada konteks profesi berarti repetisi atau frekuensi itu yang memungkinkan hal tersebut menjadi secondary trauma atau trauma yang tertular dalam tanda kutip.

Secondary trauma bukan pengalaman trauma yang dialami sendiri, namun karena mendengar cerita pengalaman orang lain.

Jiemi mengatakan secondary trauma bisa dikarenakan seseorang yang memiliki profesi harus melihat secara langsung pengalaman traumatik seperti polisi yang menangani pembunuhan atau seorang psikiater yang mendengar cerita trauma pasiennya.

Ia mengatakan manusia bisa merasakan rasa sakit dari orang lain terutama yang memiliki kedekatan personal. Beda halnya jika melihat atau mendengar cerita dari orang lain yang memiliki trauma namun tidak memiliki kedekatan personal, maka hanya akan menimbulkan empati.

Perasaan sakit yang sama dengan yang menderita trauma bisa semakin dirasakan jika narasi diceritakan berulang, sehingga yang mendengar mempunyai memori yang menjadi realita dan menimbulkan secondary trauma.

"Konteksnya adalah bukan berarti kita gak boleh cerita, karena kalau trauma bisa ditularkan artinya pemulihan juga bisa ditularkan, kekuatan juga bisa ditularkan, welas asih juga bisa ditularkan. So, gak perlu takut dengan konteks trauma bisa ditularkan karena yang lain juga ditularkan," katanya.

Ia mengatakan, untuk mencegah trauma semakin mendalam baik bagi yang mengalami maupun rekan terdekat yang mengatakan, maka perlu ada pengulangan cerita yang berkebalikan dengan memori yang sudah ada.

Pengulangan tersebut misalnya afirmasi positif bahwa ancaman tersebut tidak ada sehingga nantinya memori yang buruk akan hilang dengan memori positif baru.

Jiemi mengatakan, jika mengalami trauma yang tidak bisa dihadapi sendiri, maka sebaiknya dikonsultasikan kepada profesional untuk mendapat pertolongan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Ekonomi
Antrean BBM Jadi Sorotan, G...
Olahraga
Liverpool Gagal Menang di A...
Luar Negeri
Selamat Datang di Festival ...
Daerah
Kebakaran Kawah Ijen Sudah ...
Advertisement
Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

12 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.