Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

'Su Elege Aleka', Warisan Budaya Luhur Masyarakat Papua Pegunungan

📅 Minggu, 06 Jul 2025, 18:04 WIB | Oleh:

Era modern

Zaman yang semakin maju dan berkembang, seperti saat ini, dan banyak sekali alat yang ditawarkan serta digunakan untuk merawat bayi atau menggendong bayi, tetapi perempuan Papua Pegunungan tetap teguh merawat tradisi Su Elege Aleka.

Tradisi ini tidak hanya melekat pada perempuan Papua Pegunungan di kampung-kampung, tetapi di wilayah perkotaan pun masih kerap dijumpai.

Noken yang mereka gunakan itu tidak hanya satu, tetapi ada dua, dengan ukuran yang sama dijadikan satu untuk keseimbangan anak di dalamnya serta ada lapisan yang menjadi alas di dalam noken, yaitu wangkika dan yabe.

Dalam bahasa Dani, wangkika artinya daun pisang dan yabe itu sejenis daun yang digunakan masyarakat Papua Pegunungan, sejak zaman dulu, untuk alas balita di dalam noken, yang berfungsi memberikan keseimbangan rasa antara hangat dan dingin serta mengharumkan.

Kalau sekarang daun-daun itu tidak mudah ditemukan di alam, biasanya mereka menggunakan kain untuk menjadi alas di dalam noken. Karena noken itu hangat, maka dibutuhkan alas daun yang memberikan sensasi rasa dingin dan harum bagi bayi.

Budaya ini masih dipegang teguh oleh perempuan Papua Pegunungan untuk mencegah anak-anak mereka dari bahaya dan cuaca ekstrem. Meskipun udara di Papua Pegunungan bisa mencapai 9-15 derajat Celcius, di waktu-waktu tertentu, tetapi balita yang berada di dalam noken tetap hangat.

Karena budaya noken, secara alamiah, anak-anak Papua Pegunungan masih kental dengan warisan budaya leluhur karena telah diperkenalkan oleh orang tua atau keluarga sejak lahir, lewat buaian noken.

Balita akan berada di dalam noken, saat orang tua mereka bekerja. Kondisi itu dialami bayi, mulai usia satu pekan atau sebelum pemberian nama, hingga satu tahun, bahkan lebih. Ketika anak mereka sudah bisa berjalan atau beraktivitas, maka alat Su Elege Aleka sudah tidak digunakan lagi.

Noken yang digunakan untuk menaruh bayi itu, sejak zaman dulu dibuat dengan bahan baku alami dari serat kayu.

Dalam tradisi masyarakat Papua Pegunungan terdapat sembilan jenis tanaman yang bisa digunakan untuk menjadi bahan baku pembuatan berbagai jenis noken, di antaranya Su Elege Aleka.

Sembilan jenis tanaman yang digunakan untuk membuat noken asli itu, di antaranya digi, honawun, ilak-ilak, yakik, lisani, yawi, win, aberek, dan isiwar.

Biasanya pasangan muda yang baru menikah, sebelum ada momongan, mereka menyiapkan noken khusus untuk menaruh bayi di dalamnya. Proses pembuatan noken khusus itu berlangsung dua hingga tiga pekan, bahkan lebih, tergantung kelincahan si pembuat. Kalau sudah mahir, maka bisa diselesaikan dalam waktu dua hingga tiga pekan, sedangkan kalau lambat, bisa satu bulan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Olahraga
Laga Pramusim: Liverpool Ta...
Daerah
Pemerintah Evaluasi Operato...
Daerah
Ratusan korban selamat KMP ...
Ekonomi
Jelang HUT RI, Pedagang Ben...

Laga Penentu Jalan Menuju Empat Besar

1.5 jam yang lalu | Sujar

Olahraga
Laga Penentu Jalan Menuju E...

Arsenal Siap Berburu Semua Gelar

1.5 jam yang lalu | Sujar

Olahraga
Arsenal Siap Berburu Semua ...
Olahraga
Payton II Jadi Kunci Kebang...

Kejuaraan Taekwondo Asia 2026 Digelar di Jakarta, Jadi Ajang Perebutan Poin Olimpiade Los Angeles 2028.

Kejuaraan Taekwondo Asia 2026 Digelar di Jakarta, Jadi Ajang Perebutan Poin Olimpiade Los Angeles 2028.

03 Aug 2026
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.