Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kisah Manusia, Sungai dan Tradisi yang Terus Bertahan

📅 Jumat, 02 Okt 2026, 09:03 WIB | Oleh:
Kisah Manusia, Sungai dan Tradisi yang Terus Bertahan Doc: ANTARA/M Risyal Hidayat
Ket. Foto udara kawasan konservasi Pesut Mahakam di Desa Wisata Pela di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Minggu (4/1). Desa yang dikembangkan sebagai destinasi Green Tourism dan berkelanjutan itu juga menawarkan wisata konservasi Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) yakni mamalia sejenis lumba-lumba yang termasuk hewan dilindungi.

MENJELAJAHI Delta Mahakam tidak hanya berarti menyusuri lorong-lorong sungai yang diapit hutan mangrove atau mengamati burung dan satwa liar dari atas perahu. Di balik bentang air yang luas itu, terdapat kehidupan masyarakat yang sejak lama tumbuh mengikuti irama sungai, pasang surut, dan perubahan lingkungan pesisir.

Delta Mahakam merupakan kawasan pertemuan antara Sungai Mahakam dan perairan pesisir Kalimantan Timur. Jaringan sungai dan anak sungainya membentuk lanskap yang khas, sekaligus menjadi ruang hidup bagi masyarakat yang bermukim di sejumlah kampung di kawasan delta.

Bagi masyarakat tradisional yang tinggal di situ, air bukan sekadar bagian dari pemandangan. Sungai menjadi jalur perjalanan, sumber pangan, ruang interaksi, sekaligus bagian dari identitas kehidupan sehari-hari.

Karena itu, perjalanan ke Delta Mahakam akan terasa lebih lengkap jika tidak hanya melihat alamnya, tetapi juga mengenal bagaimana masyarakat mengolah hasil sungai dan laut, membangun rumah, bepergian, serta mempertahankan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dapur yang Mengikuti Sungai dan Laut

Salah satu cara paling mudah untuk memahami kehidupan masyarakat pesisir adalah melalui makanan. Di kawasan Delta Mahakam, hasil perairan menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Ikan sungai, ikan pesisir, udang, kepiting, dan berbagai hasil perairan lainnya dapat ditemukan dalam kuliner masyarakat.

Ikan tidak selalu diolah dengan cara yang rumit. Kesederhanaan justru menjadi karakter masakan rumahan di kawasan sungai. Ikan segar dapat dimasak dengan bumbu sederhana, digoreng, dibakar, atau diolah menjadi masakan berkuah yang disantap bersama nasi dan sambal.

Bagi wisatawan, pengalaman kuliner semacam ini menawarkan sesuatu yang berbeda dari sekadar mencicipi makanan khas sebagai menu restoran. Makanan menjadi pintu masuk untuk memahami hubungan masyarakat dengan lingkungan tempat mereka tinggal.

Hasil tangkapan yang sampai di meja makan merupakan bagian dari rantai kehidupan yang panjang: dari sungai atau perairan pesisir, dibawa menggunakan perahu, kemudian diolah di dapur rumah-rumah warga.

Salah satu hasil perairan yang juga identik dengan lingkungan mangrove adalah kepiting bakau. Satwa perairan ini hidup di kawasan pesisir berlumpur dan ekosistem mangrove, sehingga keberadaannya berkaitan erat dengan kondisi lingkungan tempat masyarakat mencari penghidupan.

Kepiting dapat dimasak dengan berbagai cara, mulai dari direbus hingga dimasak dengan bumbu pedas dan gurih. Bagi masyarakat pesisir, bahan makanan semacam ini bukan sekadar komoditas kuliner, tetapi juga sumber daya alam yang menopang kehidupan.

Di sisi lain, cita rasa masakan pesisir tidak hanya berasal dari hasil sungai dan laut. Buah-buahan lokal seperti mangga muda atau pencit dapat menjadi pelengkap yang memberikan rasa asam dan segar pada hidangan.

Sambal pencit, misalnya, bahan sederhana dapat menghasilkan rasa yang kuat. Perpaduan rasa pedas, asam, dan segar sangat cocok dipadukan dengan ikan. Kuliner semacam ini memperlihatkan satu hal penting: dapur masyarakat pesisir pada dasarnya merupakan cerminan lingkungan.

Ketika sungai menjadi bagian utama kehidupan, ikan menjadi salah satu sumber pangan. Ketika mangrove dan perairan pesisir menyediakan kepiting dan hasil laut lainnya, bahan-bahan tersebut kemudian masuk ke dalam tradisi memasak ­keluarga. hay

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Tak Mau Ketinggalan, Warga Yunani Juga Berunjuk Rasa Beratnya Beban Hidup

Tak Mau Ketinggalan, Warga Yunani Juga Berunjuk Rasa Beratnya Beban Hidup

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.