Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

'Su Elege Aleka', Warisan Budaya Luhur Masyarakat Papua Pegunungan

📅 Minggu, 06 Jul 2025, 18:04 WIB | Oleh:
'Su Elege Aleka', Warisan Budaya Luhur Masyarakat Papua Pegunungan Doc: ANTARA/Yudhi Efendi
Ket. Mama Tabuni sedang menggendong anaknya di dalam noken atau "Su Elege Aleka", satu tradisi turun temurun yang masih dipelihara oleh masyarakat asli Papua Pegunungan.

WAMENA - Mama Tabuni, perempuan asal Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan, berjalan dengan menaruh noken (tas tradisional Papua) yang talinya ditautkan di kepala sebagai penahan.

Aktivitas harian itu dilakukan berulang kali di halaman tempat tinggalnya, saat ini, di Jalan Safri Darwin, Distrik Wamena Kota, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.

Terkadang aktivitas yang sama dilakukan oleh anak-anaknya, baik yang masih berusia di bawah 10 tahun maupun usia remaja.

Mungkin sebagian orang menganggapnya sebagai aktivitas biasa, padahal yang dilakukan adalah aktivitas "membujuk" seorang balita agar nyaman, yang ditaruh di dalam noken.

Aktivitas ini, dalam bahasa Suku Dani dikenal sebagai "Su Elege Aleka" atau menggendong anak atau balita di dalam noken. Dalam pengertian yang lebih dalam, "su" artinya noken, "elege" artinya anak, dan "aleka" tempat balita atau tempat mengisi, menggendong balita.

"Su Elege Aleka" merupakan warisan budaya masa lalu yang telah diwariskan oleh nenek moyang bagi masyarakat Papua Pegunungan, yang lestari, hingga saat ini.

Budaya atau kebiasaan ini masih dipraktikkan oleh masyarakat Papua Pegunungan pada umumnya di delapan kabupaten, di antaranya Jayawijaya, Lanny Jaya, Tolikara, Nduga, Yahukimo, Mamberamo Tengah, Pegunungan Bintang dan Kabupaten Yalimo.

Seorang perempuan asal Papua Pegunungan memiliki tanggung jawab ganda, baik sebagai seorang mama dari anak-anaknya, istri, dan juga menjadi tulang punggung keluarga.

Dalam filosofi masyarakat Papua pada umumnya, setelah maskawin dibayarkan secara tuntas pada saat pernikahan, maka tugas perempuan bukan hanya melahirkan dan membesarkan anak, tetapi sekaligus mengurus semua kebutuhan keluarga, dari dalam, hingga keluar rumah.

Dalam sektor pertanian atau perkebunan, contohnya, kaum pria biasanya bertugas membongkar hutan dan membuat lahan pertanian. Selanjutnya dilanjutkan dengan tugas menanam, merawat, hingga waktunya panen.

Oleh sebab itu, dalam tradisi tersebut perempuan dituntut untuk menjadi kuat, sehingga dua atau tiga pekerjaan dilakukan dalam satu waktu.

Ketika seorang perempuan Papua Pegunungan bertugas menyusui anak, usai melahirkan, pada saat yang sama juga harus mengurus pertanian yang lahannya sudah digarap oleh kaum pria.

Aktivitas pertanian tetap berjalan seperti biasa dan merawat bayi pun berjalan di waktu yang sama. Oleh karena itu tradisi Su Elege Aleka diterapkan dalam satu waktu, sehingga pekerjaan itu tidak menjadi penghalang antara satu dengan yang lain.

“Budaya ini telah ada sejak lama dan diwariskan oleh orang tua kami, hingga saat ini,” kata pemerhati budaya dan noken Papua Pegunungan Maria K Logo ketika ditemui Antara.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kronologi Kecelakaan Maut Honda Mobilio Tabrak Pick Up di Rasuna Said, 1 Orang Tewas

Kronologi Kecelakaan Maut Honda Mobilio Tabrak Pick Up di Rasuna Said, 1 Orang Tewas

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.