Menilik Tradisi Malam 1 Suro di Keraton Solo: Kirab Pusaka dan Kebo Bule yang Konon Bawa Berkah!
📅 Rabu, 25 Jun 2025, 09:45 WIB | Oleh: Alfina Febriyana
Doc: Instagram/@agendasolo
JAKARTA - Malam 1 Suro yang bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Islam, bukan malam biasa bagi masyarakat Jawa. Bagi mereka, malam ini sarat makna spiritual dan perenungan.
Setiap daerah punya cara tersendiri dalam menyambut datangnya tahun baru Jawa ini, namun salah satu yang paling ikonik dan penuh aura mistis adalah Kirab Malam 1 Suro di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Solo.
Kirab ini bukan sekadar pawai, melainkan prosesi sakral yang dipercaya sebagai bentuk permohonan keselamatan, refleksi diri, dan ungkapan syukur kepada Sang Pencipta.
Pusat perhatian dalam kirab ini adalah Kebo Bule Kyai Slamet, kerbau albino berwarna putih kemerahan yang dipercaya membawa berkah dan aura magis.
Kebo Bule bukan hewan sembarangan. Hewan ini merupakan hewan keturunan dari kerbau pemberian Kyai Hasan Beshari Tegalsari Ponorogo kepada Paku Buwono II.
Sebaiknya Anda baca juga:
Karena selalu mengiringi pusaka Kyai Slamet dalam kirab, kerbau ini pun mendapat sebutan kehormatan, Kebo Bule Kyai Slamet.
Kini, keturunannya dirawat dengan sangat baik di kandang khusus di Alun-alun Kidul Keraton. Namun yang unik, kirab hanya akan dimulai ketika Kebo Bule siap keluar kadang tepat pukul 00.00 WIB, kadang lewat tengah malam.
Tradisi ini juga diatur dengan tata tertib khusus demi menjaga kekhidmatan prosesi. Peserta dan penonton dilarang berbicara, tidak boleh mengenakan pakaian mencolok, dan tidak diperkenankan selfie atau menyalakan flashlight selama kirab berlangsung.
Sebaiknya Anda baca juga:
Semua peserta kirab wajib berpakaian serba hitam. Para pria keraton mengenakan busana Jawi Jangkep, sementara wanita memakai kebaya hitam khas Jawa.
Menariknya lagi, usai prosesi kirab, masyarakat sering berebut kotoran Kebo Bule yang diyakini membawa keberuntungan dan berkah.
Alih-alih diisi dengan pesta meriah, Kirab Malam 1 Suro justru menjadi momen hening, reflektif, dan spiritual bagi banyak orang Jawa. Bukan hanya untuk melestarikan budaya, tapi juga sebagai wujud introspeksi diri selama setahun ke belakang.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!