Gawat! Pangkalan Milier AS di Qatar Diserang, Perang Iran-Israel Masuki Babak Baru
📅 Selasa, 24 Jun 2025, 07:20 WIB | Oleh: Sriyono
Doc: antara foto
JAKARTA – Situasi di Timur Tengah semakin panas. Kondisi itu menyusul balasan Iran atas serangan Amerika Serikat (AS) ke tiga fasilitas nuklir mereka, dengan merudal pangkalan militer AS di Qatar pada Senin (23/6) malam.
Perang yang awalnya antara Israel dan Iran itu pun memasuki babak baru yang mungkin makin gawat, apalagi pemerintah Qatar mengecam keras pelanggaran kedaulatan wilayahnya oleh Iran.
Situasi di Timur Tengah pun semakin kritis, apalagi Presiden AS Donald Trump menyatakan akan menyerang Iran lebih dahsyat lagi jika pemerintah Iran membalas bombardemen terhadap fasilitas-fasilitas nuklirnya di Isfahan, Natanz, dan Fordow.
Namun, tak lama setelah kabar serangan Iran ke Qatar itu, Trump menyatakan Israel dan Iran sudah sepakat bergencatan senjata.
Jika Trump benar, maka salvo terbaru Iran di Qatar bisa dianggap sebagai pernyataan politik simbolik belaka untuk unjuk kekuatan agar Iran tidak kehilangan muka.
Sebaiknya Anda baca juga:
Memilih menyerang pangkalan AS di Qatar pun "lebih aman" bagi Iran ketimbang menyerang pangkalan AS di Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab atau Oman. Qatar adalah negara Teluk yang memiliki hubungan yang sangat baik dengan Iran.
Tapi jika kampanye rudal Iran yang terakhir ini memicu percikan baru konflik, maka situasi Timur Tengah bisa lebih gawat lagi. Trump sendiri menyatakan serangan Iran ke pangkalan AS di Qatar itu sebagai "lemah."
Jadi, serangan Iran ke pangkalan AS itu mungkin memang merupakan pesan simbolik belaka.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dan itu artinya, AS dan Iran sudah saling menangkap pesan-pesan yang mereka sampaikan lewat manuver-manuver militernya belakangan ini.
Iran telah menangkap pesan AS dari serangan ke fasilitas-fasilitas nuklirnya. Sebaliknya, Trump telah menangkap pesan Iran di balik serangan tak hentinya ke Israel.
Pemerintah AS yang dikritik Demokrat karena menyerang Iran tanpa otorisasi parlemen, mungkin telah menangkap pesan Iran bahwa setiap serangan ke wilayahnya adalah urusan hidup mati bagi Iran, paling tidak untuk rezim mereka.
Selama puluhan tahun rezim Iran memang menjadi sasaran penggulingan pihak luar, khususnya AS dan Israel.
Iran sendiri tak bisa mengesampingkan skenario penggulingan paksa seperti menimpa Saddam Hussein di Irak, Muammar Gaddafi di Libya, Bashar al Assad di Suriah, dan banyak tempat lain di dunia.
Dalam pikiran para pemimpin Iran, akan sangat berbahaya jika tak membalas serangan AS karena bisa memberi pesan buruk kepada lawan-lawannya, termasuk di dalam negeri, bahwa mereka lemah, tidak sekuat dulu.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!