Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Mengapa Nilai Tukar Rupiah yang Merosot Menjadi Tanda Bahaya bagi Perekonomian Indonesia

📅 Sabtu, 31 Mei 2025, 21:34 WIB | Oleh:

Di samping tantangan dalam negerinya, Indonesia, seperti banyak negara berkembang lainnya, pada saat yang sama tengah bergulat dengan pukulan ganda berupa perlambatan ekonomi Tiongkok dan dampak perang dagang Trump yang meningkat.

Dalam pengumuman “Hari Pembebasan” pada hari Rabu, Trump mengumumkan tarif sebesar 32 persen terhadap impor dari Indonesia.

Bagaimana perekonomian Indonesia secara keseluruhan?

Indonesia, negara berpenghasilan menengah dengan produk domestik bruto (PDB) per kapita sebesar 4.960 dolar AS pada tahun 2024, telah menyaksikan pertumbuhan ekonomi yang solid dalam beberapa tahun terakhir.

PDB naik lebih dari 5 persen tahun lalu, setelah ekspansi serupa pada tahun 2023 dan 2023.

Tetapi angka-angka utama tersebut tidak menggambarkan kemerosotan nyata dalam taraf hidup sebagian besar penduduk Indonesia.

Jumlah orang Indonesia yang diklasifikasikan sebagai kelas menengah oleh Badan Pusat Statistik Jakarta – yang didefinisikan sebagai mereka yang pengeluaran bulanan antara 2 juta rupiah dan 9,9 juta rupiah  – turun dari 57,3 juta pada tahun 2019 menjadi 47,8 juta tahun lalu , penurunan ini disebabkan oleh faktor-faktor termasuk inflasi yang lebih tinggi dan efek COVID-19 yang masih ada.

Pada bulan Maret, mantan Menteri Keuangan Muhammad Chatib Basri menggambarkan kelas menengah negara ini sebagai “populasi yang tertekan secara ekonomi” dengan daya beli yang melemah dan tabungan yang terbatas.

“Indonesia sedang berada dalam periode yang paling menantang dan sulit sejak krisis keuangan Asia 1997-98 dan ada alasan domestik dan internasional untuk itu,” kata Hill dari ANU.

"Alasan domestik adalah presiden baru. Komunitas bisnis masih berusaha mencari tahu ke mana ia ingin melangkah dan mengelola situasi fiskal, dan itu dikombinasikan dengan lingkungan eksternal."

Sukarsono dari Control Risks mengatakan tantangan ekonomi negara ini memunculkan pertanyaan tentang prioritas Prabowo.

“Ketika pemerintah seharusnya lebih fokus pada faktor-faktor yang menyebabkan menyusutnya kelas menengah saat ini, pemerintah justru lebih sibuk dengan program-program yang tidak mengatasi penurunan daya beli dan gelombang PHK di tengah memburuknya kondisi sektor manufaktur padat karya,” kata Sukarsono.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Merubah Ruang Publik Menjadi Panggung Seni dan Budaya
    Preview komentar:
    Berapa WA Bank Neo? Nomor WhatsApp resmi BNC 'Neobank' ...
    Berapa WA Bank Neo? Nomor WhatsApp resmi BNC 'Neobank' ...
  • Bikin Haru! Sukses Pukau Upacara HUT RI, Anak-Anak SDN Cibatok Dihadiahi Liburan ke Taman Safari!
    Preview komentar:
    Berapa WA Bank Neo? Nomor WhatsApp resmi BNC 'Neobank' ...
    Berapa WA Bank Neo? Nomor WhatsApp resmi BNC 'Neobank' ...
  • Wisatawan ke Bogor Bakal Dilayani Bus Khusus
    Preview komentar:
    layanan call center wa bank neo? Segera hubungi WhatsApp ...
    layanan call center wa bank neo? Segera hubungi WhatsApp ...
Luar Negeri
Utang Meningkat, Rakyat Jep...
Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

23 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.