Rupiah Tak Berkutik di Tengah Gejolak Dunia: Belum Genap Satu Semester, Pelemahan Sudah Signifikan
📅 Jumat, 08 Mei 2026, 20:52 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/ Dhemas Reviyanto.
JAKARTA – Pelemahan rupiah sepanjang 2026 menunjukkan bahwa stabilitas nilai tukar masih sangat bergantung pada sentimen eksternal ketimbang kekuatan fundamental domestik.
Tekanan geopolitik di Timur Tengah, penguatan dolar AS, serta tingginya ketidakpastian pasar global membuat investor cenderung menarik dana dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Akibatnya, rupiah terus berada dalam tekanan hingga melampaui asumsi makro APBN 2026 di level Rp16.500 per dolar AS.
Sepanjang 2026, kurs rupiah terhadap dolar AS hingga 8 Mei telah melemah 562 poin atau sekitar 3,35 persen menjadi Rp17.333 per dolar AS.
Kondisi ini juga mengindikasikan bahwa intervensi moneter belum sepenuhnya mampu memulihkan kepercayaan pasar.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ketergantungan pada arus modal asing dan sensitivitas terhadap gejolak global membuat rupiah rentan mengalami volatilitas berkepanjangan.
Jika pelemahan terus berlangsung, dampaknya dapat meluas ke kenaikan biaya impor, tekanan inflasi, hingga beban pembayaran utang luar negeri yang semakin besar.
Situasi tersebut menjadi peringatan bahwa penguatan rupiah tidak cukup hanya mengandalkan stabilisasi jangka pendek, tetapi memerlukan penguatan struktur ekonomi, ekspor bernilai tambah, dan ketahanan sektor keuangan domestik.
Sebaiknya Anda baca juga:
Seperti diketahui, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan, Jumat (8/5), melemah 49 poin atau 0,28 persen menjadi Rp17.382 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.333 per dolar AS.
Sebagai perbandingan, kurs rupiah, dalam perdagangan akhir tahun lalu atau pada 30 Desember 2025 ditutup menguat 17 poin atau sekitar 0,10 persen dari sehari sebelumnya ke level 16.771 rupiah per dolar AS atau melampaui target dalam APBN 2025 di level 16.000 rupiah per dollar AS.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menyatakan pelemahan rupiah meningkat seiring tensi di Timur Tengah menengah pasca penyerangan AS ke Iran.
“Tensi di Timur Tengah kembali meningkat pasca penyerangan AS ke Iran di hari ini. Alhasil, harga minyak global kembali meningkat dan dolar AS kembali terapresiasi secara luas,” ungkapnya di Jakarta.
Mengutip Sputnik, Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Ebrahim Zolfaghari mengatakan bahwa AS melanggar gencatan senjata dengan menyerang beberapa wilayah Iran, termasuk pantai pelabuhan Khamir, kota Sirik dan Pulau Qeshm, serta dua kapal Iran.
Angkatan bersenjata Iran segera membalas, menyerang kapal perang Amerika di sebelah timur Selat Hormuz dan selatan pelabuhan Chabahar, menyebabkan kerusakan yang signifikan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!