Inzaghi Bidik Trofi Liga Champions dan Status Legenda di Inter Milan
📅 Kamis, 29 Mei 2025, 08:20 WIB | Oleh: Benny Mudesta Putra
Doc: AFP
MILAN - Simone Inzaghi berada di ambang kejayaan bersama Inter Milan. Setelah mengantar Nerazzurri ke final Liga Champions, pelatih berusia 48 tahun itu punya kesempatan emas untuk menorehkan namanya dalam sejarah klub—dan menebus kegagalan mempertahankan gelar Serie A musim lalu yang jatuh ke tangan Napoli.
Sejak mengambil alih kursi pelatih pada tahun 2021, Inzaghi sukses mengubah Inter menjadi salah satu kekuatan top Eropa. Ini adalah final Liga Champions kedua dalam tiga musim terakhir yang mereka capai—pencapaian luar biasa mengingat keterbatasan finansial klub.
Berbeda dengan Paris Saint-Germain, lawan Inter di final akhir pekan ini yang disokong dana besar dari Qatar, Inter justru menghadapi berbagai kendala. Masalah keuangan membuat mereka tak leluasa di bursa transfer. Nama-nama anyar seperti Piotr Zielinski dan Mehdi Taremi datang secara gratis, sementara Josep Martinez dibeli murah dan Nicola Zalewski hanya dipinjam dari Roma.
Namun terbukti, dengan skuad yang terbilang tipis dan diisi pemain veteran seperti Francesco Acerbi (37) dan Henrikh Mkhitaryan (36), Inter tetap kompetitif di level tertinggi. Taremi bahkan baru mencetak dua gol musim ini—keduanya dari penalti di laga yang sudah hampir dimenangkan.
Final kali ini bisa jadi lebih menjanjikan dibanding edisi 2023 saat Inter kalah tipis dari Manchester City asuhan Pep Guardiola di Istanbul. Gelar Liga Champions akan menjadi puncak prestasi Inzaghi setelah sebelumnya mempersembahkan satu scudetto, tiga Coppa Italia, dan tiga trofi Supercoppa Italiana.
Sebaiknya Anda baca juga:
Nama Inzaghi mungkin masih tertinggal dari kakaknya, Filippo, yang dulu bersinar bersama AC Milan dan Juventus. Namun di jalur kepelatihan, Simone mulai membuktikan diri sebagai pelatih papan atas.
Karirnya dimulai dari tim muda Lazio, sebelum dipercaya menangani tim utama pada 2016. Di tengah keterbatasan dana, ia berhasil membawa Lazio menjuarai Coppa Italia 2019 dan dua kali mengalahkan Juventus di ajang Supercoppa.
Prestasi tersebut cukup menarik perhatian Inter, yang saat itu ditinggal Antonio Conte usai membawa klub menjuarai Serie A. Kondisi finansial memburuk, ditambah kepergian dua pilar utama—Romelu Lukaku dan Achraf Hakimi—memaksa Inter mencari sosok yang bisa bekerja dengan sumber daya terbatas. Inzaghi dianggap ideal.
Sebaiknya Anda baca juga:
Alih-alih mengeluh, Inzaghi memilih beradaptasi. Filosofi "kerja dalam kesederhanaan" yang dibawanya dari Lazio terbukti efektif di Inter. Ia berhasil membangun kebersamaan dan semangat juang yang kini membawa Nerazzurri kembali ke final Eropa.
Jika mampu mengalahkan PSG dan mengangkat trofi Si Kuping Besar, Simone Inzaghi bukan hanya akan mengakhiri penantian panjang Inter di Eropa, tapi juga menempatkan dirinya sejajar dengan para legenda klub.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!