RI Harus Waspadai Dampak Tidak Langsung Perang Tarif AS-Tiongkok
📅 Jumat, 16 Mei 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim RedaksiPerkembangan terbaru, AS dan Tiongkok akhirnya mencoba berunding untuk meredam ketegangan. Meski ada harapan sinyal positif, Josua mengingatkan adanya risiko yang masih akan berlangsung.
“Kalau kita melihat ke depannya, tentunya risiko ataupun probability apakah gencatan perang dagang ini akan berlanjut atau tidak, tentunya probability ini pun akan dipengaruhi lagi oleh bagaimana dinamika dalam negosiasi dagang antara kedua belah pihak ke depannya,” kata Josua.
Buka Blokir Anggaran
Dalam kesempatan terpisah, Direktur Eksekutif Center of Economic and law Studies (Celios), Bhima Yudisthira mengatakan, meskipun perang mereda, namun tetap belum mampu membantu pemulihan ekonomi AS dan Tiongkok, dua negara mitra dagang penting Indonesia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dia pun memproyeksikan ekonomi Indonesia pada triwulan II-2025 (Q2-2025) hanya tumbuh berkisar 4,6-4,7 persen year on year (yoy). Faktor pendorong positif lebih ke realisasi belanja pemerintah dari gaji ke 13 dan mulai dibukanya sebagian blokir anggaran sebesar 86,6 triliun rupiah.
“Kita lihat terus pada Juni ini realisasi belanja pemerintah akan tembus berapa. Kalau signifikan maka ada harapan pertumbuhan tidak anjlok di bawah 4,5 persen atau tidak makin melemah,”ungkap Bhima.
Dari sisi konsumsi rumah tangga, Bhima mengatakan perlu diwaspadai karena gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK/ yang terjadi makin menekan daya beli.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!