RI Harus Waspadai Dampak Tidak Langsung Perang Tarif AS-Tiongkok
📅 Jumat, 16 Mei 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
JAKARTA - Indonesia dipandang perlu melakukan perhitungan yang matang untuk mengantisipasi risiko pelemahan ekonomi Tiongkok. Hal itu penting untuk mengantisipasi dampak tidak langsung dari perang tarif antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, meskipun saat ini mereda untuk sementara waktu.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede di Jakarta, Kamis (15/5) mengatakan
Dana Moneter Internasional (IMF) sendiri telah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada tahun ini dan tahun depan menjadi 4 persen. Pelemahan ekonomi Tiongkok itu dapat menjadi salah satu risiko bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia mengingat tujuan ekspor Indonesia ke negara tersebut pangsanya sekitar 20-25 persen dari total ekspor nasional.
“Tentu, perlambatan ekonomi Tiongkok ini pun juga akan turut mempengaruhi kinerja perekonomian Indonesia nantinya dan akan juga berimplikasi kepada kinerja dari sisi sektor keuangan di Indonesia,” kata Josua dalam webinar OJK Institute di Jakarta, Kamis (15/5).
Josua menjelaskan, dari simulasi yang dilakukan Permata Bank menunjukkan bahwa setiap perlambatan 1 poin persen ekonomi Tiongkok akan bisa berdampak negatif kepada perlambatan ekonomi Indonesia sekitar 0,1 poin persen. Sedangkan perlambatan ekonomi AS akan berdampak sekitar 0,07 persen poin persen ke ekonomi Indonesia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara itu, harga komoditas ekspor utama Indonesia, seperti CPO dan batubara, juga diperkirakan menurun imbas perang tarif AS. Berdasarkan simulasi, Josua mencatat bahwa setiap 10 persen penurunan harga CPO dan batubara akan berimplikasi kepada perlambatan PDB Indonesia masing-masing sekitar 0,09 poin persen dan 0,08 poin persen.
Apabila dampak perang tarif dilihat secara sektoral, Josua mengatakan bahwa struktur ekspor Indonesia ke AS memang didominasi oleh produk manufaktur dengan beberapa subsektornya menunjukkan ketergantungan yang cukup tinggi.
Pada 2024, ekspor manufaktur ke AS mencapai 25,1 miliar dollar AS yang mencakup 12,9 persen dari total ekspor manufaktur Indonesia. Terdapat 14 industri yang memiliki eksposur signifikan yang menjadikannya sangat rentan terhadap perubahan tarif dari AS.
Sebaiknya Anda baca juga:
Lebih lanjut Josua memaparkan dampak kenaikan tarif AS akan bervariasi antar sektor. Industri yang sangat berorientasi ekspor dan bergantung pada pasar AS seperti tekstil, alas kaki, elektronik, furnitur, dan produk karet, diperkirakan akan menghadapi risiko yang terbesar.
Sebaliknya sektor pertambangan dan pertanian menunjukkan ketergantungan langsung yang terbatas terhadap AS, meskipun tetap rentan terhadap dampak tidak langsung melalui penurunan harga komoditas global di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan.
Josua menambahkan, pasar komoditas telah merespon kebijakan Presiden AS Donald Trump di mana harga minyak, tembaga, nikel, dan produk pertanian menurun cukup tajam setelah eskalasi perang dagang.
“Jika eskalasi perdagangan ini berlanjut, maka pertumbuhan ekonomi global pun juga bisa melemah lebih jauh sehingga ini akan bisa menurunkan permintaan eksternal termasuk ekspor Indonesia,” jelasnya.
Menurut Josua, dampak langsung perang tarif terhadap ekonomi Indonesia sebenarnya relatif marginal atau tidak signifikan. Ini mempertimbangkan bahwa perekonomian Indonesia masih didominasi oleh konsumsi rumah tangga, sehingga dampaknya terhadap perlambatan ekonomi domestik pun relatif dapat bisa dimitigasi dengan penguatan ekonomi domestik.
Oleh sebab itu, reformasi struktural tetap harus dijalankan dan dipercepat dalam rangka memperkuat ekonomi domestik kita ke depannya,” kata Josua.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!