Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kualitas Pertumbuhan Ekonomi Nasional Triwulan I-2025 Tak Baik-baik Saja, Pelemahan Konsumsi Jadi Alarm Buat Prospek hingga Akhir Tahun

6 Rabu, 14 Mei 2025, 00:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Kualitas Pertumbuhan Ekonomi Nasional Triwulan I-2025 Tak Baik-baik Saja, Pelemahan Konsumsi Jadi Alarm Buat Prospek hingga Akhir Tahun Kualitas Pertumbuhan Ekonomi Nasional Triwulan I-2025 Tak Baik-baik Saja, Pelemahan Konsumsi Jadi Alarm Buat Prospek hingga Akhir Tahun Doc: ANTARA/Yudi Manar
Ket. Warga berbelanja kebutuhan pokok di salah satu pusat perbelanjaan di Medan, Sumatera Utara, Selasa (13/5). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi rumah tangga pada triwulan I-2025 mencapai 4,89 persen year-on-year (yoy) dan memberikan andil 2,61%.

JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan pertama tahun ini yang melambat dibandingkan periode sebelumnya mencerminkan masih lemahnya daya bali masyarakat. Indikasi tersebut terlihat dari serapan produksi dan pertumbuhan konsumsi sepanjang tiga bulan awal tahun ini.

Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan I-2025 mencapai 4,87 persen dibandingkan periode sama tahun lalu (yoy). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan capaian pada triwulan IV-2024 sebesar 5,02 persen.

“Dari luar kelihatan bagus, tetapi bisa saja di dalamnya banyak masalah,” ujar Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan kepada Koran Jakarta, Selasa (13/5).

Anthony menambahkan sisi produksi mengatakan pertumbuhan ekonomi mencapai 4,87 persen. Namun, pertumbuhan konsumsi pada triwulan I-2025 ternyata hanya 4,05 persen. Artinya, ada 0,82 persen dari hasil produksi tidak terserap atau terkonsumsi.

Sebagian besar dari jumlah tersebut, yaitu 0,60 persen, lanjutnya, masih tersimpan di gudang produsen, yang dinamakan persediaan. Untuk itu, diperlukan langkah antisipasi penurunan produksi pada periode selanjutnya karena produsen akan mencoba menghabiskan barang di gudangnya terlebih dahulu.

"Produksi yang tersimpan di gudang (sebagai persediaan) tidak menjadi masalah selama persediaan tersebut memang diproduksi untuk mengantisipasi permintaan yang membludak. Tetapi, produksi yang berlabuh di gudang persediaan akan menjadi masalah besar kalau penyebabnya daya beli yang lemah, sehingga tidak mampu menyerap produksi. Sepertinya ini yang terjadi," papar Anthony.

Dijelaskannya, pertumbuhan konsumsi sebesar 4,05 persen tersebut terdiri dari dua komponen, yaitu pertumbuhan konsumsi dalam negeri (domestik) dan pertumbuhan konsumsi luar negeri (ekspor-impor). Pertumbuhan konsumsi dalam negeri, yang terdiri dari konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, dan konsumsi untuk investasi, hanya mencapai 3,22 persen, terendah sejak 2011-2019. Pada saat bersamaan, konsumsi pemerintah terkontraksi 0,09 persen.

“Pertumbuhan ekonomi domestik sangat lemah, dan kemungkinan besar bisa menjadi masalah serius di triwulan-triwulan selanjutnya. Konsumsi pemerintah kemungkinan besar masih akan terkontraksi sampai akhir tahun ini. Karena penerimaan pajak tahun ini diperkirakan akan jauh di bawah target. Sampai triwulan I-2025 penerimaan pajak baru tercapai 14,7 persen,” ujar Anthony.

Selain itu, lanjutnya, daya beli masyarakat nampaknya masih akan tertekan mengingat pemutusan hubungan kerja (PHK) masih terjadi di berbagai sektor ekonomi, termasuk sektor media massa, ritel, dan juga manufaktur. Di lain sisi, investasi yang masih minim belum dapat menciptakan lapangan kerja baru sesuai harapan.

Tertinggi di Kawasan

Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto mengatakan di tengah kondisi tantangan eksternal yang kian kompleks mulai dari fragmentasi geoekonomi hingga meningkatnya kebijakan proteksionisme, perekonomian nasional menunjukkan torehan positif pada triwulan I-2025 danabahkan melampaui sejumlah negara di Asean dan G20.

Sebagai penopang pertumbuhan ekonomi triwulan I-2025, sejumlah sektor lapangan usaha juga tumbuah signifikan. Salah satu lapangan usaha yang memiliki pertumbuhan tinggi meliputi, sektor pertanian dengan pertumbuhan double digit sebesar 10,52 persen, seiring normalisasi waktu panen raya dan meningkatnya produksi pertanian.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Angkatan Darat AS Berlatih Menggali Kuburan Massal untuk Skenario Perang dengan Banyak Korban
    Apa mungkin AS akan melakukan invasi darat ke ...
  • Satgas Penertiban Kawasan Hutan Selidiki Perusahaan AK, Jejak Hubungan dengan Oknum Aparat Didalami
    Ditanya siapa ak itu kq malah balik bertanya? ...
  • Andrea Bocelli Bikin Jakarta Terpukau! Konser Romanza Hadirkan Malam Penuh Keajaiban
    Salut banget dengan konser Andrea Bocelli sangat mengharumkan ...
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Daerah 2027 Resmi Dibuka Kemenhaj, Cek Syarat dan Jadwalnya Disini!

Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Daerah 2027 Resmi Dibuka Kemenhaj, Cek Syarat dan Jadwalnya Disini!

05 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.