Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Tercapainya Target Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) Sebesar 95 Persen Dapat Ciptakan Herd Immunity

📅 Senin, 05 Mei 2025, 18:50 WIB | Oleh:

“Imunisasi dapat melindungi anak dari penyakit yang bisa dicegah dan juga komplikasi serius yang ditimbulkan dari penyakit tersebut. Pentingnya edukasi kepada masyarakat melalui tenaga kesehatan, bahwa penanganan penyakit setelah terjadinya komplikasi akan jauh lebih sulit, sehingga penting bagi orang tua untuk tidak ragu memberikan imunisasi pada anak sesuai anjuran,” jelasnya.

Seiring dengan kondisi yang terus berubah, Satgas Imunisasi IDAI secara berkala terus memperbarui rekomendasi imunisasi sesuai perkembangan ilmu kedokteran. Saat ini ada 15 jenis vaksin yang direkomendasikan untuk diberikan sesuai tahapan usia anak, termasuk PCV untuk mencegah pneumonia, MMRV untuk penyakit akibat virus campak, gondongan, rubella, dan cacar air, Rotavirus untuk melindungi anak dari infeksi rotavirus yang menyebabkan diare berat, serta HPV untuk mencegah kanker serviks. 

Karenanya, penting bagi tenaga kesehatan maupun orang tua untuk dapat terus mengikuti pembaruan informasi terkait jadwal imunisasi, agar setiap anak memperoleh perlindungan yang optimal,” tambah Hartono.

Di hari kedua penyelenggaraannya, diskusi IVAXCON juga menyoroti pentingnya vaksinasi bagi kelompok dewasa dan lansia, sebagai segmen populasi yang kerap terabaikan dalam wacana imunisasi. Ketua Satuan Tugas (Satgas) Imunisasi Dewasa PAPDI, Dr. dr. Sukamto Koesnoe, Sp.PD-KAI, FINASIM menuturkan, sata demografis menunjukkan bahwa Indonesia akan menghadapi aging population pada tahun 2035. Diproyeksikan jumlah penduduk lansia mencapai 48,2 juta jiwa atau sekitar 15,77 persen dari total populasi. 

Namun banyak orang dewasa dan lansia yang tidak lagi terproteksi oleh vaksin yang diterima pada usia anak, bahkan ada pula yang belum mendapatkan imunisasi lengkap ketika usia anak. Padahal kalangan ini rentan terhadap berbagai ancaman penyakit berbahaya, paparnya.

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Tahun 2023, kelompok usia 65–74 tahun memiliki prevalensi pneumonia tertinggi kedua setelah bayi dibawah usia satu tahun, yakni sebesar 0,86 persen. Risiko yang meningkat seiring bertambahnya usia, ditambah penurunan imunitas, membuat lansia rentan mengalami komplikasi serius. Untuk memberikan perlindungan yang optimal, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan vaksin pneumokokus bagi orang dewasa berusia 50 tahun ke atas.

“Sudah saatnya kita mengubah paradigma bahwa vaksinasi hanya dibutuhkan pada masa kanak-kanak. Perlindungan melalui vaksinasi perlu menjadi prioritas juga bagi populasi berisiko tinggi, seperti lansia, individu dengan penyakit kronis, dan individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah,” ujar dia

Menurut Sukamto, kesadaran ini harus dibangun sejak dini, termasuk di kalangan tenaga kesehatan, agar para tenaga kesehatan dapat berperan aktif dalam memberikan edukasi dan mendorong pencegahan sebelum terjadi kondisi yang memburuk dari komplikasi serius.

Stylianou menambahkan, IVAXCON 2025 menjadi langkah konkret MSD Indonesia dalam memperkuat fondasi edukasi dan kolaborasi lintas sektor untuk mendukung target pemerintah Indonesia untuk mencapai pemerataan vaksinasi di Indonesia. Dengan melibatkan para tenaga kesehatan, forum ini diharapkan dapat memperluas dampak edukasi ilmiah dan memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap vaksinasi sebagai investasi kesehatan jangka panjang bagi semua kalangan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Luar Negeri
PBB Desak Perusahaan AI Tra...
Luar Negeri
Liga Arab Kukuhkan Nabil Fa...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.