Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

AS Cabut “Duty Free” Barang Bernilai Kecil dari Tiongkok dan Hong Kong

📅 Senin, 05 Mei 2025, 01:05 WIB | Oleh: Tim Redaksi
AS Cabut “Duty Free” Barang Bernilai Kecil dari Tiongkok dan Hong Kong Doc: istimewa
Ket. Perang Tarif - AS Cabut “Duty Free”

JAKARTA - Pemerintah Amerika Serikat (AS) resmi mencabut aturan pembebasan bea masuk (duty free) terhadap barang impor bernilai kecil (de minimis) dari Tiongkok dan Hong Kong pada Jumat (2/5) pekan lalu. Pencabutan tersebut semakin meningkatkan tensi perang dagang diantara kedua negara ekonomi terbesar dunia yang sudah panas sejak Presiden Donald Trump kembali memimpin AS.

Dalam konteks perdagangan, istilah de minimis merujuk pada barang yang terlalu kecil atau tidak signifikan untuk dipertimbangkan.

Sebelumnya, barang-barang impor senilai kurang dari 800 dollar AS atau sekitar 13,1 juta rupiah dibebaskan dari bea masuk. Aturan itu kemudian dicabut berdasarkan perintah eksekutif Presiden AS Donald Trump pada 2 April 2025 lalu.

Gedung Putih juga mengatakan langkah itu diambil untuk menghentikan aliran ilegal obat-obatan opioid sintetis seperti fentanyl.

Pencabutan itu juga untuk menutup celah dalam aturan perdagangan yang digambarkan oleh Trump sebagai penipuan yang merugikan bisnis kecil di AS.

“Ini adalah penipuan besar terhadap negara kita, terhadap bisnis yang sangat kecil. Dan kita telah mengakhirinya, kita menghentikannya,” kata Trump pada sidang kabinet awal pekan ini.

Impor barang dari Tiongkok dan Hong Kong kini dikenakan tarif dan semua bea masuk yang terkait.

Keputusan AS itu diperkirakan akan memukul dengan telak platform perdagangan daring seperti Shein, Temu, dan para penjual pihak ketiga di platform Amazon yang sebelumnya memanfaatkan celah itu untuk menghindari bea masuk.

Barang-barang asal Tiongkok itu, kini dikenakan tarif hingga 145 persen.

Para pakar perdagangan mengatakan kepada CBS News seperti dikutip dari Antara mengatakan bahwa langkah itu juga memberikan beban baru pada Bea Cukai dan Pelindungan Perbatasan AS (CBP).

Badan federal AS itu, kini harus memeriksa jutaan paket lebih banyak setiap hari, yang berpotensi menghambat pengiriman dan menimbulkan masalah administratif.

“Cara kita berbelanja daring tidak akan pernah sama lagi,” kata CEO Publican, Ram Ben Tzion, kepada media AS itu.

Pasal 321 Undang-Undang Tarif 1930 mengizinkan barang de minimis masuk ke AS tanpa tarif, biaya, atau pajak. Pada 2016, Kongres menaikkan batas nilainya dari 200 dollar AS menjadi 800 dollar AS per pengiriman.

Menurut laporan Congressional Research Service. pengiriman paket individu bernilai kecil dari Tiongkok tercatat melonjak dari 5,3 miliar dollar AS pada 2018 menjadi 66 miliar dollar AS atau lebih dari 1 triliun rupiah pada 2023.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Luar Negeri
Harga Energi dan Biaya Hidu...
Megapolitan
Dana Cadangan, Pramono Usul...
Luar Negeri
G7 Akan Lepas 100 Juta Bare...

PBB akan Alokasikan Dana untuk 12 Krisis Kemanusiaan

57 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Luar Negeri
PBB akan Alokasikan Dana un...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.