Saat Jet Tempur Tak Bisa Terbang Bebas, Paradoks Pertahanan Udara dan Kedaulatan di Era Jaringan
📅 Selasa, 22 Apr 2025, 08:53 WIB | Oleh: Tim PenulisModernisasi tak lengkap tanpa wahana nirawak (UAV/UCAV). Tapi lebih dari sekadar penggunaan drone, kita perlu sistem manned-unmanned teaming (MUM-T), di mana jet tempur dan drone beroperasi dalam satu taktik terpadu.
F-15EX dan Rafale bisa mengendalikan beberapa drone sekaligus - sebagai pengintai, pelindung, atau penyerang awal. Ini memperluas jangkauan, mengurangi risiko pilot, dan memperkuat daya kejut. Yang penting, UAV bisa dikembangkan dalam negeri, mendukung kemandirian industri pertahanan.
MRO: Titik Lemah yang Terabaikan
Sektor Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) sering luput dari perhatian, padahal menjadi titik rawan. Software perawatan yang tak transparan, komponen impor yang sulit diaudit, serta sistem yang terhubung ke cloud asing membuka celah bagi serangan siber.
Sebaiknya Anda baca juga:
MRO nasional harus diperkuat sebagai bagian dari strategi pertahanan, bukan hanya urusan logistik. Jika setiap kali jet error kita harus memanggil teknisi asing, maka kita belum sepenuhnya memiliki kekuatan udara—kita hanya menyewanya.
Penutup: Dari Aset
ke Sistem, dari Simbol ke Kedaulatan
Sebaiknya Anda baca juga:
Kekuatan udara bukan soal jumlah jet, tapi soal kendali penuh atas langit sendiri - secara fisik, digital, dan strategis. Indonesia harus berani memprioritaskan belanja besar yang disertai dengan kedaulatan sejati, demi mewujudkan sistem pertahanan yang terintegrasi, adaptif, dan mandiri.
Modernisasi alutsista harus selaras dengan pembaruan doktrin pertahanan yang mencakup keamanan rantai pasok, pertahanan siber, integrasi UAV, dan penguatan MRO. Tanpa itu semua, F-15EX dan Rafale hanya akan jadi harimau di kandang orang lain - gagah, tapi terkunci.
Selama wilayah udara strategis masih didelegasikan ke negara lain dan doktrin kita belum selaras dengan era digital dan jaringan, kedaulatan udara Indonesia akan terus tergadaikan - bukan oleh musuh, tapi oleh ketertinggalan kita sendiri.
Sudah saatnya kita membangun sistem pertahanan yang sungguh-sungguh berdaulat, memanfaatkan teknologi dan digitalisasi untuk memastikan langit Indonesia dijaga dengan kekuatan sejati, bukan sekadar simbol. Dan semua itu dimulai dari keberanian untuk memperbarui doktrin.
Oleh: Tommy Tamtomo
Tommy Tamtomo, Wakil Ketua, Pusat Studi Air Power Indonesia (PSAPI) | Ketua Dewan Pengawas, Indonesia Cyber Security Forum (ICSF)
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!