Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Saat Jet Tempur Tak Bisa Terbang Bebas, Paradoks Pertahanan Udara dan Kedaulatan di Era Jaringan

📅 Selasa, 22 Apr 2025, 08:53 WIB | Oleh: Tim Penulis
Saat Jet Tempur Tak Bisa Terbang Bebas, Paradoks Pertahanan Udara dan Kedaulatan di Era Jaringan Doc: AFP/FRED TANNEAU
Ket. Pesawat tempur multiperan Rafale milik Prancis saat simulasi pendaratan di pangkalan udara Angkatan Laut Prancis di Landivisiau, Prancis, pekan lalu.

Bayangkan membeli jet tempur sekelas F-15EX dan Rafale, dua dari yang tercanggih di dunia namun tak bisa menerbangkannya bebas di langit sendiri. Inilah para­doks nyata yang dihadapi Indone­sia hari ini.

Masalah ini berakar dari pengendalian ruang udara strategis seperti Selat Malaka. Memang benar, sejak 2022, pengelolaan FIR (Flight Information Region) yang sebelumnya berada di bawah Singapura, telah secara resmi berubah menjadi FIR Jakarta.

Namun, wilayah udara eks-FIR Singapura dari permukaan hingga 37.000 kaki didelegasikan oleh Indonesia kepada Singapura untuk dikelola selama 25 tahun, dan segera diperpanjang saat mema­suki waktu daluwarsa.

Artinya, kendali operasional tetap berada di tangan Singapura, termasuk untuk rencana penerbangan militer TNI AU yang masih harus dilaporkan ke otoritas mereka.

Hal ini menimbulkan pertan­yaan serius: apa gunanya memiliki armada tempur canggih jika tak bisa digunakan secara mandiri? Bukankah ini bertentangan de­ngan semangat kedaulatan udara sebagaimana diatur dalam Un­dang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, Pasal 458?

Indonesia telah meneken pem­belian 48 Rafale dan merencanakan 24 F-15EX. Di atas kertas, ini adalah langkah besar dalam modernisasi alutsista. Namun, seperti diingat­kan Marsekal TNI (Purn.) Chappy Hakim, kedaulatan udara tidak ditentukan oleh jumlah jet di hang­gar, melainkan oleh kendali penuh atas langit sendiri.

Dari Jet ke Jaringan:

Menggeser Paradigma Lama

Modernisasi pertahanan bukan sekadar memperbarui arsenal. Dunia telah memasuki era network-centric warfare - sistem pertahanan terintegrasi yang menghubung­kan radar, sensor, jet, rudal, pusat komando, hingga pengambilan keputusan berbasis data dan AI.

Sayangnya, Indonesia masih ter­paku pada paradigma lama: beli jet, pasang radar, akuisisi rudal. Tanpa integrasi sistem, semua itu hanya komponen terpisah yang tak mampu bertindak cepat dan sinergis. Kita butuh ekosistem pertahanan yang menyatu, termasuk sistem keaman­an siber untuk udara dan antariksa.

Ancaman Datang dari Server, Bukan Hanya dari Langit

Serangan masa kini tak selalu datang lewat udara, tapi bisa menyusup lewat sistem digital: mal­ware di radar, backdoor di firmware, hingga sabotase dalam sistem kon­trol. Semua ini bisa melumpuhkan sistem sebelum jet sempat terbang.

Namun, hingga kini Indonesia belum memiliki sistem komando pertahanan siber khusus untuk sek­tor udara. Padahal sektor ini sangat tergantung pada digitalisasi dan vendor luar. Tanpa kontrol terha­dap supply-chain cyber security, kita seperti menyerahkan kunci rumah kepada pihak asing.

Integrasi Drone: Bukan Masa Depan, tapi Kebutuhan saat Ini

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Ribuan Penebang Tebu Sambut Mentan Amran, Diajak Dukung Swasembada Gula Nasional.
    Preview komentar:
    swasambada gula juga tidak kalah pentingnya dari swasembada ...
  • Bukan Sekadar Diskon! Subsidi Motor Listrik Disebut Bisa Pacu Industri Nasional
    Preview komentar:
    Sebagai praktisi yang sering berinteraksi dengan sektor distribusi ...
  • Industri Halal Dinilai Jadi Motor Baru Pertumbuhan Ekonomi Indonesia.
    Preview komentar:
    Membaca ulasan komprehensif ini memberikan perspektif baru yang ...

Uji Kelayakan dan Kepatutan Calon Gubernur BI

48 menit yang lalu | Fajar Alim M

Nasional
Uji Kelayakan dan Kepatutan...
Daerah
Pelajar Terdampak Karhutla ...
Ekonomi
Nelayan Sikka Kembali Melau...
Nasional
Bank Mandiri Pastikan Reken...
"Famtrip Marine Maratua 2026" Promosikan Keindahan Bawah Laut Maratua pada Turis Selam Malaysia dan Singapura

"Famtrip Marine Maratua 2026" Promosikan Keindahan Bawah Laut Maratua pada Turis Selam Malaysia dan Singapura

26 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.