Pakar Sebut Penjurusan SMA akan Berbeda Dari Kurikulum 2013
📅 Sabtu, 19 Apr 2025, 22:20 WIB | Oleh: Muhamad Ma'rup
Doc: Tangkapan layar Youtube Doni Koesoema
JAKARTA - Pakar pendidikan, Doni Koesoema, menilai, pemerintah tidak hanya berencana mengembalikan penjurusan SMA, tapi juga membenahi kelemahan kebijakan tersebut. Menurutnya, penjurusan SMA tidak akan sama dari implementasi sebelumnya yang diatur dalam Kurikulum 2013 (Kurtilas).
"Kembalinya penjurusan SMA, itu sebenarnya tidak dimaksudkan untuk kembali ke penjurusan zaman Kurikulum 2013," ujar Doni, dalam siaran youtube-nya, diakses Sabtu (19/4).
Dia menjelaskan, kelemahan penjurusan SMA dalam Kurtilas dilakukan terlalu awal pada kelas 10. Selain itu, mata pelajaran yang dipelajari itu sudah terpaku dalam struktur kurikulum sehingga siswa tidak bisa memilih.
Doni menyebut, kelemahan tersebut sudah diperbaiki di era Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim, dengan cara pemilihan dilakukan di kelas 11. Siswa juga boleh memilih secara bebas mata pelajaran sesuai dengan rumpun keilmuan dan jenjang karier yang akan dimilikinya.
"Jadi tidak mungkin kementerian itu malah mundur ke belakang ke Kurikulum 2013 yang sudah diperbaiki oleh Mas Nadiem," jelasnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dia menyoroti, kebijakan dari Mendikbudristek yang memakai sistem peminatan lebih fleksibel juga memiliki kelemahan. Meski siswa bisa memilih sesuai minat dan bakatnya, tetapi tidak ada sambungan antara peminatan penjurusan tersebut menjadi bagian kriteria seleksi di dalam perguruan tinggi.
"Justru seleksi berdasarkan rumpun keilmuan oleh Mas Nadiem dihilangkan. Inilah kesalahan fatalnya. Dan tentu saja sudah banyak keluhan dari banyak universitas bahwa mahasiswa yang diseleksi itu enggak terpilih mereka yang terbaik," katanya.
Doni menilai, rencana pemerintah mengembalikan penjurusan SMA merupakan upaya untuk menyesuaikan dengan kebijakan Tes Kompetensi Akademik (TKA). Selain menjadi program evaluasi hasil belajar, TKA menjadi penting sebagai instrumen penerimaan mahasiswa baru karena TKA akan menguji rumpun mata pelajaran siswa.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Ketiadaan seleksi masuk perguruan tinggi berdasarkan rumpun keilmuan yang akhirnya membuat perguruan tinggi kita itu tidak mampu menyeleksi mahasiswa terbaik," ucapnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!