Tren Wisata Berubah, ICPI Dorong Indonesia Bergerak Cepat
📅 Kamis, 10 Apr 2025, 23:09 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi
JAKARTA – Pemerintah perlu mengikuti pergeseran paradigma pariwisata seperti yang terjadi saat ini sehingga dapat memaksimalkan penerimaan negara dari sektor tersebut.
Hal itu dimaksudkan agar dapat meningkatkan kunjungan wisatawan, baik secara domestik maupun internasional.
“Kita belum sadar bahwa sudah terjadi pergeseran paradigma pariwisata. Di tahun 2023-2025 itu terjadi customized tourism, sementara di tahun 2025 dan seterusnya bisa saja krisis ekonomi jilid 2 dimulai?” kata Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI), Azril Azhari di Jakarta, Kamis (10/4).
Azril mengatakan sejak sebelum 1980 paradigma pariwisata selalu bergeser mengikuti perkembangan zaman. Mulai dari pariwisata yang melibatkan jumlah kunjungan yang amat besar (mass tourism) sampai dengan customized tourism.
Belakangan ini, ia menilai bahwa wisatawan membutuhkan pariwisata yang konsepnya berbasis pada minat khusus. Contohnya seperti pengalaman pariwisata yang lebih dalam dan berarti (slow tourism), pariwisata kesehatan (health tourism) hingga pariwisata budaya (culture tourism).
Sebaiknya Anda baca juga:
“Sebagai contoh slow tourism adalah pariwisata yang fokus pada pengalaman yang lebih dalam dan lebih berarti, dengan interaksi dengan masyarakat lokal, lingkungan, dan budaya. Lain halnya dengan pariwisata massal yang dianggap merusak lingkungan dan budaya lokal,” ujar dia.
Dengan adanya tren tersebut, pemerintah diminta untuk lebih menghargai lingkungan, budaya lokal dan mampu berinteraksi dengan masyarakat lokal setempat. Hal itu bertujuan agar para wisatawan yang datang bisa mendapatkan pengalaman yang sangat berkesan melalui pariwisata yang berkelanjutan.
Azril turut menyarankan upaya yang dapat pemerintah lakukan selanjutnya adalah membuat kebijakan yang mengacu pada paradigma pariwisata yang sudah bergeser seiring dengan pergeseran juga pada perilaku pengunjung.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di sisi lain, ia turut mengingatkan bahwa kebersihan, keamanan dan keselamatan lingkungan (K3L) merupakan suatu pra-syarat untuk membangun sebuah destinasi wisata.
“Artinya bukan merupakan suatu gerakan atau imbauan tapi pra-syarat. Lakukanlah penghargaan dan hukuman melalui monitoring dan evaluasi. Hal ini merupakan indikator dasar di Travel and Tourism Development Index (TTDI),” kata Azril.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!