Riset Tunjukkan Pengaruh Musik Keroncong pada Kesehatan Mental
📅 Minggu, 16 Feb 2025, 11:00 WIB | Oleh: Tim PenulisSebagai pengalaman estetis, semeleh juga muncul dalam gerakan atau aktivitas fisik ketika berkeroncong. Hasil riset mengungkapkan bahwa memejamkan mata (merem) ketika berkeroncong adalah salah satu indikasi bahwa seseorang telah mencapai kondisi semeleh. Memejamkan mata dianggap sebagai bentuk penghayatan juga perwujudan dari sensasi kenikmatan musik keroncong yang ngroncongi.
Dalam pertunjukan musik keroncong, pemain instrumen kerap didapati sedang memejamkan mata sembari memainkan alat musiknya. Mereka melakukannya bukan karena kantuk apalagi sambil tertidur, melainkan sedang berada dalam kondisi semeleh. Tubuh mereka secara sadar memainkan alat musik, namun pikiran mereka terhipnotis dalam alunan musik keroncong yang membuat kinerja otak semakin rileks dan menciptakan ketenangan.
Musik keroncong di Indonesia
Terlepas dari manfaat yang dimiliki, banyak masyarakat Indonesia yang hanya mengenal musik keroncong dari lagu “Bengawan Solo”. Memang, keroncong mengalami perkembangan yang cukup pesat di Solo dan “keroncong gaya Solo” merupakan bentuk ekspresi yang paling banyak dikenal masyarakat umum.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, selain di Solo, ragam ekspresi musik keroncong juga tumbuh dan berkembang di berbagai daerah di Indonesia, seperti keroncong Tugu, keroncong Jakartaan, keroncong Stambul Fadjar, keroncong Tingkilan, Losquin Makassar, dan sebagainya.
Selain itu, berbagai inovasi dengan ekspresi keroncong pop/keroncong beat juga telah dilakukan anak muda untuk membuat musik keroncong tetap relevan di berbagai generasi. Alhasil, anggapan bahwa musik ini hanya untuk “orang tua” perlahan menghilang.
Saat ini, lebih banyak orang menikmati musik ini sebagai ekspresi seni yang tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga memberikan ketenangan. Beberapa dari para pelaku dan penikmat keroncong, secara rutin dan sukarela menyelenggarakan aktivitas berkeroncong di malam hari. Mereka mengungkapkan bahwa dengan berkeroncong, mereka dapat melepaskan penat atau beban setelah lelah seharian bekerja sehingga berada dalam kondisi semeleh.
Sebaiknya Anda baca juga:
Salah seorang informan wawancara menuturkan, “Keroncong yang ngroncongi itu bikin tenteram, tenang hatinya. Keadaan kita yang kalau capek, seharian kerja, malamnya keroncongan. Nah, sudah itu. Orang sini bilang, semeleh, gitu. Jadi tenang, nrimo, pasrah. Ya itu, semeleh.”
Perubahan suasana hati karena aktivitas musik dapat berpengaruh pada kinerja otak yang juga berdampak pada kondisi mental dan emosional seseorang. Musik keroncong telah membuktikan adanya relevansi antara musik, kinerja otak, dan kesehatan mental. Ini dirasakan tidak hanya oleh para pelaku musik, tetapi juga para penikmat musik keroncong.
Mustika Andini, Mahasiswa Program Doktoral Kajian Budaya, Universitas Sebelas Maret dan Jordy Satria Widodo, Dosen Kajian Sastra dan Budaya, Universitas Pakuan
Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!