Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kesehatan Mental Ibu Bisa Picu Anak Stunting

📅 Kamis, 13 Feb 2025, 19:41 WIB | Oleh:
Kesehatan Mental Ibu Bisa Picu Anak Stunting Doc: Muhamad Marup
Ket. Peneliti Action Against Stunting Hub (AASH)/Seamo Refcon, Risatianti Kolopaking, dalam diseminasi temuan awal penelitian (AASH)/Seamo Refcon di Jakarta, Kamis (13/2).

JAKARTA - Peneliti Action Against Stunting Hub (AASH)/Seamo Refcon, Risatianti Kolopaking, mengatakan, banyak hal yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak, termasuk dari sisi ibu. Menurutnya, perkembangan anak juga dapat dipengaruhi kesehatan mental ibu.

"Anak dari ibu dengan gangguan mental umum yang rendah memiliki hasil yang lebih baik dalam perkembangan kognitif, bahasa ekspresif, dan motorik," katanya dalam diseminasi temuan awal penelitian (AASH)/Seamo Refcon di Jakarta, Kamis (13/2).

Dia menerangkan, gangguan mental yang dimaksud pun beragam mulai dari gejala depresi yang dihitung dalam skala ringan hingga sedang. Menurutnya, pelibatan orang tua dan masyarakat menjadi penting dalam konteks penanganan mental ibu.

"Depresi pada ibu ini berkontribusi pada keterlambatan perkembangan anak, bahkan untuk stunting anak ini juga ada pengaruhnya," jelasnya.

Country Lead AASH, Umi Fahmida, mengatakan, pihaknya melakukan penelitian yang terdiri dari dua komponen, yakni observasi kohort ibu hamil yang dilanjutkan hingga anak mereka berusia 24 bulan. Kemudian, studi intervensi dengan menggunakan telur sebagai makanan tambahan.

"Hal ini untuk mengetahui efektivitas peningkatan kualitas asupan selama kehamilan terhadap epigenetik dan stunting pada bayi," katanya.

Dia menerangkan, selama penelitian, berbagai pengumpulan data dilakukan berdasarkan pendekatan anak secara utuh. Menurutnya, setidaknya ada empat komponen yang ditampilkan dalam penelitian.

Pertama, profil asupan dan status gizi, epigenetik, genetik dari anak dan kedua orang tua, serta saluran cerna (komponen fisik). Kedua, perkembangan anak yang meliputi proses berpikir, kemampuan bahasa dan motorik, kesiapan belajar, serta asuhan psikososial (komponen kognitif).

Ketiga, lingkungan belajar anak usia dini (komponen pendidikan). Keempat, lingkungan pangan termasuk WASH, keamanan pangan dan rantai nilai pangan dari makanan padat gizi (komponen pangan).

"Pengumpulan data dilakukan di beberapa tahapan pada 1.000 hari pertama kehidupan, yakni masa kehamilan, menyusui dan periode makanan pendamping ASI," ucapnya.

Umi menambahkan, penelitian itu merancang intervensi yang bertujuan untuk mencegah, mengatasi, dan mengembalikan beberapa karakteristik utama dari stunting. "Diharapkan hasil temuan awal ini dapat memberikan informasi penting yang relevan bagi para pengambil kebijakan dalam mendorong percepatan penurunan stunting," tuturnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Asosiasi Ojek Online: Aturan Bagi Hasil 92:8 Persen Beri Dampak Nyata Pengemudi Ojol
    Preview komentar:
    Saya bingung ojol seperti Grab gojek Maxim itu ...
    Pak presiden jangan percaya lap.bawahan yg ada ojol ...
  • Ketahanan Pangan Diperkuat Rp195,3 Triliun, Mampukah Harga Pangan Ikut Stabil?
    Preview komentar:
    Meskipun fokus RAPBN 2027 ini sangat kuat pada ...
  • Tenun Dinilai Menekraf Harus Ditampilkan Agar Nilai Ekonominya Berkembang
    Preview komentar:
    Langkah strategis Kementerian Ekraf dalam mensertifikasi desain tenun ...
Advertisement
injourney
Advertisement
bni-atasdetailmobile
Advertisement
astra2
Advertisement
bankjakarta-detail-mobile

Berikut Daftar Harga BBM di Hari Kemerdekaan RI Ke-81

1.5 jam yang lalu | Bambang Wijanarko

Nasional
Berikut Daftar Harga BBM di...
Megapolitan
Jelang Kirab HUT RI Ke-81, ...
Advertisement
bankjakarta-detail-mobile
Hari Ini Diskon Pertamax Gan, Lumayan Bisa Hemat Rp450 per Liter

Hari Ini Diskon Pertamax Gan, Lumayan Bisa Hemat Rp450 per Liter

17 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.