Stabilitas Sektor Keuangan RI Terancam Setelah Gabung BRICS
📅 Jumat, 10 Jan 2025, 01:30 WIB | Oleh: Tim RedaksiBelum lagi dari sisi teknologi, yang umumnya berasal dari barat. “Semua sumber teknologi utama berasal dari negara-negara barat. Bagaimana mungkin perusahaan seperti Apple mau berinvestasi di Indonesia jika kita terlihat condong ke BRICS? Dengan masuknya Indonesia ke BRICS, justru merugikan posisi kita dalam jangka panjang,” katanya.
Apalagi kebergantungan BRICS pada Tiongkok sebagai ekonomi terbesar dalam blok itu juga menjadi titik lemah. Sebab, ekonomi Tiongkok saat ini pun menghadapi tekanan besar akibat utang dan kredit macet di sektor properti.
“Jika Tiongkok saja kesulitan, bagaimana mereka bisa membantu Indonesia?” kritiknya.
Ia juga menyebutkan bahwa banyak negara BRICS memiliki sistem ekonomi sosialis yang tidak cocok dengan Indonesia. “Kita adalah ekonomi pasar bebas. Pajak tinggi seperti di negara sosialis malah akan membebani pertumbuhan bisnis dan masyarakat. Jika tidak naik, dari mana mendapat dana bantuan sosial,” jelasnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pengalaman Filipina dan Vietnam katanya merupakan pelajaran penting bagi Indonesia. “Filipina sempat mendekat ke Tiongkok di era Duterte, tetapi hasilnya justru mengecewakan. Kini, di bawah pemerintahan Marcos, Filipina kembali memperkuat hubungan dengan AS. Sementara itu, Vietnam yang tetap netral dan fokus pada kerja sama dengan blok barat menikmati investasi asing langsung (FDI) yang luar biasa,” ungkapnya.
Sementara itu, Doktor Ekonomi lulusan Universitas Tanjung Pura (Untan) Pontianak, Kalimantan Barat, Sabinus Beni mengatakan Indonesia dalam mengelola APBN saja belum efisien dan banyak kebocoran. Sebab itu, perlu fokus membangun ekonomi perdesaan sebagai kunci pembangunan nasional. Pemerintah seharusnya mengarahkan perbankan membiayai ekonomi perdesanaan dan melarang membiayai properti yang sudah bubble.
“?Kredit macet properti sudah 1.700 triliun rupiah, lebih baik nonblok di tengah. ?Insentif manis masuk BRICS terlalu kecil untuk jangka menengah dan jangka panjang,” kata Sabianus.
Sebaiknya Anda baca juga:
Indonesia tambahnya punya potensi ekonomi sangat besar, tapi bukan menjadi pilihan penanamn modal asing langsung atau Foreign Direct Invesstment (FDI) oleh blok yang lebih besar bahkan akan stagnan. Hal itu kata Sabianus perlunya Indonesia menempatkan posisi yang tepat diantara blok ekonomi yang ada, agar tetap mendapat limpahan aliran modal, baik di pasar keuangan maupun di sektor riil.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!