Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Perlu Penguatan Fiskal agar Kenaikan PPN Tidak Jadi Simalakama

24 Jumat, 03 Jan 2025, 00:09 WIB | Oleh: Tim Penulis
Perlu Penguatan Fiskal agar Kenaikan PPN Tidak Jadi Simalakama Perlu Penguatan Fiskal agar Kenaikan PPN Tidak Jadi Simalakama Doc: ANTARA/Dok pribadi
Ket. Pakar ekonomi Universitas Jember Adhitya Wardhono, PhD.

Jember - Pakar ekonomi Universitas Jember Adhitya Wardhono, PhD mengatakan perlu penguatan fiskal agar kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) tidak menjadi buah simalakama di Indonesia.

"Ikhtiar yang bisa dilakukan pemerintah sehingga tarif PPN tidak menjadi simalakama adalah penguatan fiskal dan transparansi melalui penertiban wajib pajak dengan meminimalkan potensi penghindaran pajak ataupun potensi korupsi melalui prinsip self-assessment yang mengandalkan kejujuran wajib pajak," kata Adhitya Wardhono di Jember, Jawa Timur, Kamis.

Dalam sistem self-assessment, lanjut dia, wajib pajak diminta dan diberi hak untuk menghitung sendiri pajaknya, membayar pajak yang terutang, dan melaporkannya melalui Surat Pemberitahuan (SPT) yang disampaikan kepada otoritas pajak.

"Artinya pemerintah harus melakukan edukasi dan peningkatan literasi perpajakan bagi masyarakat luas. Juga melakukan evaluasi berkala terhadap dampak kebijakan untuk memastikan keberlanjutan pembangunan tanpa mengorbankan kesejahteraan rakyat," tuturnya.

Ke depan pemerintah perlu membuat kebijakan ekonomi yang memberi kemudahan fiskal bagi rakyat, kemudian mengedepankan partisipasi dan dialog dengan berbagai pihak, termasuk masyarakat dan pelaku usaha, juga bisa mereduksi gejolak sosial yang timbul.

Yang bisa dilakukan pemerintah selain peningkatan PPN adalah melakukan reformasi pajak lain, dengan mengurangi pajak berganda, memberikan insentif fiskal untuk sektor-sektor tertentu, dan memberlakukan pajak progresif pada sektor yang kurang terjangkau.

"Optimalisasi aset-aset milik negara melalui investasi yang menghasilkan pendapatan, serta optimalisasi diversifikasi ekonomi dengan meningkatkan kontribusi sektor-sektor strategis seperti pariwisata, ekonomi digital, dan sektor hilir dari sumber daya alam," ucap pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unej itu.

Secara kritis, katanya, kebijakan kenaikan PPN 12 persen menimbulkan pertanyaan mengenai kesesuaian dengan prinsip keadilan dan efisiensi dalam teori ekonomi perpajakan.

Ia mengatakan pengenaan tarif PPN yang lebih tinggi pada barang-barang mewah dapat dianggap progresif karena membebankan pajak yang lebih besar kepada kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi.

Dalam konteks ekonomi kelembagaan, lanjutnya, kelembagaan fiskal yang kuat, transparan, dan adaptif diperlukan agar pemerintah dapat menyesuaikan kebijakan dengan kondisi ekonomi yang dinamis tanpa mengorbankan kepercayaan publik atau stabilitas ekonomi.

Keberhasilan implementasi kebijakan PPN 12 persen sangat bergantung pada legitimasi kebijakan yang mencakup transparansi penggunaan dana pajak dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

"Akhirnya pembatalan kenaikan PPN itu harusnya menjadi pendorong ekonomi rakyat terlebih pada waktu yang bersamaan pemerintah menyiapkan berbagai skema stimulus ekonomi untuk rakyat berpendapatan rendah," ujarnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Polisi Jambi Tangkap Tiga Pelaku Pembobol Pipa Pertamina
    percayalah pencurian tidak akan terjadi kalau biaya hidup ...
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
Advertisement
Citilink Flight Sale 231026 Homepage Mobile Atas
Advertisement
Homedec Homepage
Ekonomi
Sebanyak 60 UMKM Ramaikan F...
Nasional
Penyaluran Bantuan Air Bers...
Megapolitan
Lapak Baca Gratis Hadir unt...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
BMKG Prakirakan Mayoritas Cuaca Kota Besar Indonesia Berawan dan Hujan Ringan Sabtu Ini

BMKG Prakirakan Mayoritas Cuaca Kota Besar Indonesia Berawan dan Hujan Ringan Sabtu Ini

24 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.