Di Tanimbar Manusia Purba Memiliki Kemampuan Seberangi Lautan
📅 Senin, 25 Nov 2024, 06:15 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: ANTARA/Aditya Pradana Putra
Di Asia tenggara, bukti baru menunjukkan penggunaan perahu yang memungkinkan pelaut purba untuk menjajah sebagian dari lebih dari 13.000 pulau yang membentuk Indonesia modern. Salah satunya adalah Kepulauan Tanimbar yang terpencil.
Kepulauan Tanimbar merupakan kumpulan pulau-pulau di Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Beberapa pulau besar diantaranya Pulau Yamdena, Pulau Larat, Pulau Selaru, Pulau Sera, Pulau Wuliaru, Nitu, Wetar, Labobar, Molu, Maru dan Fordata. Pulau Yamdena merupakan pulau terbesar dengan luas 3.333 kilometer persegi yang membentang dari utara hingga selatan.
“Pertanyaan tentang bagaimana nenek moyang kita tiba di sana dari Asia tenggara adalah salah satu yang paling menarik dalam migrasi prasejarah, terutama karena jarak yang sangat jauh dan keterampilan pelayaran canggih yang diperlukan,” ujar Hendri Kaharudin, kandidat PhD di Australian National University (ANU), dikutip dari laman The Debrief.
“Penemuan ini menandai salah satu situs paling awal yang diketahui di rute selatan, menjadikannya bagian penting dari teka-teki,” imbuh Kaharudin, penulis utama studi yang menguraikan teknologi maritim canggih yang digunakan oleh para pelaut awal ini yang membantu mereka mencapai Pulau Tanimbar di Elivavan yang berada di Desa Romean, Kecamatan Tanimbar Utara, Kabupaten Maluku Tenggara Barat.
Meskipun para ilmuwan sering berteori tentang kedatangan pertama migran manusia di Indonesia dari Asia tenggara, tidak ada teori konkret yang diterima secara universal. Menurut penelitian tim yang dipublikasikan di Quaternary Science Reviews, penemuan terbaru yang dilakukan di Elivavan, Pulau Tanimbar, Indonesia, mengungkapkan bahwa orang pertama kali tiba di sana sekitar 42.000 tahun yang lalu.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Bersama dengan pecahan tembikar kecil, kami juga menemukan bukti benda-benda seperti tulang, kerang, dan bulu babi yang menunjukkan peran pulau itu sebagai pusat kegiatan maritim awal,” kata Kaharudin.
Untuk mencapai lokasi terpencil ini, para pelaut kuno harus melintasi jarak yang sangat jauh di atas lautan yang berbahaya. Kaharudin mengatakan para pelaut kuno ini harus melintasi perairan sejauh lebih dari 100 kilometer, terlepas dari arah perjalanan mereka.
Menurut siaran pers yang mengumumkan temuan baru tersebut, sifat berisiko dari penyeberangan laut menunjukkan bahwa para penjelajah telah mengembangkan teknologi maritim canggih sekitar 42.000 tahun yang lalu.
Sebaiknya Anda baca juga:
The Debrief sebelumnya melaporkan penemuan yang menunjukkan bahwa pelaut Zaman Batu dari 7.000 tahun yang lalu menggunakan beberapa teknik bahari canggih untuk berlayar jarak jauh. Namun, penelitian ini adalah yang pertama mengidentifikasi teknik canggih serupa dari puluhan ribu tahun sebelumnya.
Rute Selatan
Jika penemuan yang dilakukan di Elivavan pada akhirnya mengkonfirmasi bahwa rute pertama ke Indonesia yang diambil oleh para pelaut kuno lebih dari 42.000 tahun yang lalu adalah rute selatan, hal itu akan memecahkan perdebatan lama antara para ilmuwan tentang rute mana yang diambil oleh para penjajah asli ini untuk sampai ke sana.
“Ada dua rute utama yang telah dieksplorasi sebagai kemungkinan sejak pertengahan abad ke-20, jalur utara melalui pulau-pulau seperti Sulawesi, dan jalur selatan yang melewati dekat Timor dan Kepulauan Tanimbar,” jelas Kaharudin dalam laporannya.
Kata peneliti, lokasi khusus ini, yang terletak di sepanjang rute selatan, amat penting karena Tanimbar terletak tepat di luar paparan Sahul, yang meliputi Australia modern, serta Nugini. Untuk melakukan penyeberangan yang berbahaya tersebut, para peneliti percaya bahwa manusia pelaut purba ini kemungkinan besar berpindah-pindah di sepanjang pantai, berpindah dari satu pulau ke pulau lain saat mereka perlahan menyebar.
Strategi ini berkembang seiring waktu, para peneliti mencatat, yang berarti bahwa kolonisasi bukanlah peristiwa tunggal tetapi, proses bertahap yang melibatkan gelombang populasi pelaut yang berurutan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!