4 Cara Mencapai Swasembada Air di Era Prabowo: Tak Harus dengan Bendungan
📅 Jumat, 22 Nov 2024, 14:35 WIB | Oleh: Tim PenulisDi beberapa daerah, irigasi tetes juga bergantung pada sumber listrik untuk mengoperasikan pompa. Ini menyulitkan penerapannya di wilayah dengan akses listrik terbatas.
Penggunaan energi terbarukan seperti pompa bertenaga surya atau kincir angin dapat menjadi solusi yang efektif untuk persoalan ini.
3. Sistem pemanenan kabut (fog harvesting)
Daerah pegunungan atau dataran tinggi seperti di Desa Alasbuluh, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, dapat memanfaatkan teknologi pemanenan kabut (fog harvesting) sebagai solusi pasokan air. Teknologi ini memungkinkan pengumpulan embun atau kabut untuk kemudian diubah menjadi air.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pemerintah dapat menyediakan dana bantuan atau subsidi untuk bahan dan teknologi. Selain itu, skema kredit atau insentif khusus juga dapat membantu masyarakat mengadopsi teknologi ini.
Kebijakan dan regulasi yang mendukung juga penting agar pengumpulan air dari kabut bisa lebih terstruktur dan terencana. Misalnya, pemerintah dapat mengintegrasikan fog harvesting ke dalam program penyediaan air bersih dan irigasi untuk daerah dataran tinggi.
Di sisi lain, masyarakat lokal bisa terlibat secara langsung dalam proses pemasangan dan pemeliharaan peralatan fog harvesting. Dengan pelatihan yang disediakan pemerintah atau lembaga terkait, masyarakat bisa mengelola fasilitas ini secara mandiri dan memastikan alat-alat tersebut berfungsi optimal.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pihak lain, seperti universitas, organisasi masyarakat sipil, dan sektor swasta, juga dapat berkontribusi melalui dukungan teknis, pelatihan, serta inovasi dalam memanen kabut agar lebih efisien dan mudah diakses.
4. Pemeliharaan bendungan dan pipa distribusi air
Selama 10 tahun terakhir, pemerintahan Presiden Jokowi telah membangun banyak infrastruktur di Indonesia, khususnya bendungan dan waduk untuk mendukung ketahanan air dan pangan. Namun, beberapa program ini belum dilengkapi perencanaan dan pengoperasian infrastruktur pipa sehingga akses airnya belum inklusif bagi masyarakat sekitar.
Oleh karena itu, selain soal pembangunan, pemerintahan Prabowo semestinya juga berfokus pada peningkatan operasi dan pemeliharaan infrastruktur. Pemeliharaan dan pembangunan pipa juga berpotensi menghemat anggaran pemerintah karena tidak perlu membangun banyak infrastruktur baru.
Sebaliknya, pemerintah pusat bersama daerah dapat mengucurkan anggaran penyempurnaan infrastruktur bendungan, perbaikan dan penggantian pipa, termasuk biaya operasi dan pemeliharaannya. Saat ini ketiga aspek tersebut masih menghadapi banyak tantangan sehingga masih banyak kerusakan dan kebocoran jaringan, serta berbagai masalah lainnya.
Pemerintah daerah bisa melibatkan masyarakat setempat untuk memantau kondisi infrastruktur distribusi air. Otoritas dapat mengucurkan bantuan finansial untuk usaha kecil, pengurangan tagihan air/listrik, akses prioritas program sosial seperti pelatihan keterampilan penunjang usaha. Opsi lainnya adalah insentif berupa penghargaan komunitas bagi partisipasi mereka.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!