4 Cara Mencapai Swasembada Air di Era Prabowo: Tak Harus dengan Bendungan
📅 Jumat, 22 Nov 2024, 14:35 WIB | Oleh: Tim PenulisPemerintah daerah dapat berperan aktif dengan mengawal program ini, termasuk membantu penyediaan tangki penampung air hujan di setiap rumah. Harapannya, masyarakat memiliki cadangan air untuk musim kemarau.
Di Balikpapan, Kalimantan timur, seorang warga memulai inisiatif membeli tandon air untuk menampung air hujan sebagai cadangan musim kemarau. Sistem ini telah banyak dimanfaatkan juga untuk perikanan.
Solusi ini dapat diterapkan di mana saja dengan beragam topografi daerah di Indonesia, baik di pedesaan maupun perkotaan. Agar pendekatan ini bisa lebih terstruktur, pemerintah perlu menganalisis kebutuhan dan ketersediaan air untuk menentukan volume tangki pemanen air hujan dan kebutuhan di setiap rumahnya.
Edukasi mengenai pentingnya konservasi air dan teknik pengelolaan air skala rumah tangga dapat membantu masyarakat memanfaatkan air dengan lebih efisien.
Sebaiknya Anda baca juga:
2. Modernisasi irigasi
Salah satu tujuan pembangunan bendungan adalah untuk meningkatkan produktivitas saluran irigasi. Sayangnya, di sejumlah daerah, distribusi air bendungan justru tidak adil dan tidak optimal. Alhasil, bendungan justru memicu konflik di masyarakat.
Modernisasi irigasi bisa menjadi langkah krusial untuk meningkatkan produktivitas lahan pertanian. Salah satunya dengan menggunakan teknologi irigasi tetes (drip irrigation) yang menghemat air dan memastikan tanaman menerima jumlah air dengan tepat, sekalipun di musim kemarau.
Sebaiknya Anda baca juga:
Penggunaan sensor kelembaban tanah untuk mengatur volume air juga dapat membantu meningkatkan efisiensi dan hasil panen. Berdasarkan riset tahun 2016 di Lombok Timur, efisiensinya mencapai 99,24-100%. Hal ini didukung pula oleh hasil temuan pemerintah Queensland di Australia.
Kendati begitu, drip irrigation memiliki beberapa kekurangan.
Pertama, biaya instalasi awal yang tinggi sering menjadi kendala, terutama bagi petani kecil dengan modal terbatas. Pasalnya, sejumlah peralatan seperti pipa, selang, dan pompa cukup mahal, sekitar Rp20-26 juta per hektare.
Pemerintah pusat maupun daerah dapat mengatasi tantangan ini dengan program subsidi ataupun pembiayaan yang ramah petani kecil.
Kedua, irigasi tetes rentan mengalami penyumbatan pada emitor (lubang tetes) akibat partikel padat atau endapan mineral, terutama jika kualitas air tidak terjaga dengan baik.
Akibatnya, sistem ini memerlukan pemeliharaan rutin, termasuk pemasangan saringan, untuk memastikan semua emitor dan selang bekerja optimal. Sebab, kebocoran atau penyumbatan dapat menyebabkan distribusi air yang tidak merata dan mengganggu pertumbuhan tanaman.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!