Waspada Penipuan Kripto Bermodus Kecanggihan Teknologi dan Psikologi
📅 Jumat, 15 Nov 2024, 14:30 WIB | Oleh: Tim PenulisCCEM memberikan beberapa wawasan berharga bagi berbagai pemangku kepentingan dalam ekosistem cryptocurrency, baik individu, organisasi, maupun regulator untuk memperhatikan aspek kognitif dan psikologis, selain teknologi yang membuat orang rentan terhadap penipuan.
Indonesia dapat mengambil beberapa pelajaran penting dari model ini untuk mengantisipasi penipuan dalam dunia kripto. Apalagi, saat ini jumlah investor cryptocurrency di Indonesia lebih banyak dari investor saham.
- Peningkatkan literasi digital dan finansial: Masyarakat perlu dilatih untuk mengenali tanda-tanda penipuan dan mengelola FOMO. Edukasi publik harus fokus tidak hanya pada aspek teknis, tetapi juga pada aspek psikologis yang memengaruhi keputusan investasi.
-
Pengawasan promosi oleh tokoh publik: Mengingat kuatnya pengaruh selebriti dan media sosial, regulator perlu memperketat pengawasan terhadap promosi cryptocurrency oleh influencer atau tokoh publik, karena testimoni palsu sering kali digunakan untuk menarik korban.
- Peningkatan sistem pelaporan penipuan: Pemerintah perlu membangun sistem pelaporan dan penanganan penipuan cryptocurrency yang lebih efektif. Kolaborasi antara otoritas keuangan, kepolisian, dan platform cryptocurrency akan membantu dalam pencegahan dan penanganan kasus penipuan.
-
Regulasi yang memperhatikan karakteristik masyarakat lokal:
Pemerintah perlu memperkuat regulasi yang mempertimbangkan karakteristik unik masyarakat Indonesia, seperti tingginya penggunaan media sosial dan budaya gotong-royong yang bisa dimanfaatkan penipu dalam skema penipuan berantai.
Apalagi, teknologi terus berkembang, termasuk kecerdasan buatan (AI) dan komputasi kuantum yang dapat mengubah asumsi dasar tentang keamanan dalam cryptocurrency. Artinya, kemajuan teknologi baru mungkin akan membuka celah atau peluang baru dalam keamanan cryptocurrency yang harus segera diantisipasi.
Arif Perdana, Associate Professor in Digital Strategy and Data Science, Monash University
Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.
Sebaiknya Anda baca juga:
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!