Hindarkan Gen Y dan Z Dari Generasi Sandwich Menuju Visi Indonesia Emas 2045
📅 Jumat, 15 Nov 2024, 12:05 WIB | Oleh: Vitto BudiBeruntung, beberapa provinsi periode bonus demografinya akan berlangsung hingga 2040 antara lain, Provinsi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Banten, Nusa Tenggara Barat, Kalimnatan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah hingga Maluku dan Papua. Satu-satunya provinsi yang bonus demografinya bakal berlanjut hingga 2050 yaitu Kalimantan Timur.
Namun demikian, Amalia menyayangkan terdapat satu provinsi yaitu Nusa Tenggara Timur yang tidak pernah mengalami bonus demografi sama sekali karena 50 persen penduduknya berusia tidak produktif.
Terlepas dari target “Indonesia Emas” tercapai atau tidak, Amalia menyarankan agar Indonesia segera bersiap memasuki periode penuaan populasi atau aging population. Kondisi itu semakin menantang karena saat ini, jutaan warga lanjut usia (lansia) masih hidup dalam garis kemiskinan.
Manajer Riset Seknas Fitra, Badiul Hadi mengatakan peningkatan kelompok lansia yang miskin dan tidak produktif, otomatis akan membebani keluarganya khususnya anak mereka yang masih produktif.
Sebaiknya Anda baca juga:
Generasi yang produktif itu ungkap Badiul selain sebagai tulang punggung bagi keluarga inti atau istri dan anak-anaknya, juga menjadi harapan untuk menghidupi orang tua atau anggota keluarga lain yang tidak produktif. Generasi yang memikul beban dari atas dan bawah itu yang dikenal dengan generasi sandwich.
Data BPS menunjukkan pada 2019 ada sekitar 27,88 persen rumah tangga di Indonesia adalah rumah tangga lansia. Angka tersebut naik jadi 33,16 persen pada 2023. Data tersebut menunjukkan ada sekitar 3 dari 10 rumah tangga di Indonesia, terdapat lansia sebagai anggota rumah tangga.
Generasi sandwich papar Badiul tidak hanya dituntut merawat dan mengurus rumah tangga tetapi juga membiayai kebutuhan hidup orang tua lansia (generasi tua) serta menanggung biaya kebutuhan anak-anak atau adik mereka, mulai dari biaya hidup, biaya sekolah, kesehatan dan biaya lainnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
BPS jelas Badiul pada pada 2020 mencatat terdapat 71 juta penduduk Indonesia merupakan generasi sandwich atau lebih dari seperempat total populasi. Sekitar 8,4 juta diantaranya hidup seatap dengan saudara atau kerabat di luar keluarga inti yang mereka biayai atau extended family.
Jika melihat komposisi sebarannya, maka gen Y atau generasi yang berusia 24-39 tahun pada 2020 lalu paling banyak menjadi generasi sandwich. Tidak berhenti di Gen Y, pada 2025 mendatang BPS memproyeksikan Gen Z juga akan masuk kelompok usia produktif. Jumlah kelompok usia produktif pun akan meningkat menjadi 67,90 juta orang atau 23,83 persen dari total jumlah penduduk.
Gen Z yang ikut menanggung kehidupan dua generasi itu pun berpotensi meningkat tiap tahun mengikuti jumlah lansia yang meningkat tiap tahun-nya.
Masalahnya, gen Z yang sebagian besar baru memasuki dunia kerja atau baru beberapa tahun membangun karir, belum memiliki kesehatan finansial yang baik, sehingga banyak diantaranya memanfaatkan utang untuk menopang biaya hidup. Salah satu yang paling mudah adalah mengandalkan pinjaman online (pinjol).
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, hingga Maret 2024 ada 9,18 juta rekening pinjaman online (pinjol) dari kelompok usia 19-34 tahun, dengan nilai pinjaman mencapai 28,80 triliun. Nilai pinjaman tersebut naik nyaris 2 triliun rupiah hanya dalam setahun.
Kondisi tersebut semakin miris dengan banyaknya anak di bawah 19 tahun juga ikut terjerat pinjol. Berdasarkan data statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sampai Maret 2024, rekening pinjaman online di Fintech di kelompok usia ini sudah mencapai lebih dari 90 ribu rejening atau meningkat 28,5 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!