Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Tanpa Upaya untuk Menjauhi Bahan Bakar Fosil, Akan Meningkatkan Dampak Perubahan Iklim

📅 Senin, 28 Okt 2024, 00:01 WIB | Oleh:

Banyak pemerintah dan lembaga keuangan di seluruh dunia menanggapi sains dan memperketat kebijakan mereka, dengan tujuan untuk menekan emisi karbon. Misalnya, lebih banyak negara kini menetapkan harga karbon untuk memaksa perusahaan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, dan semakin banyak pula bank yang berjanji untuk tidak mendanai pembangkit listrik tenaga batu bara.

Tarif pajak karbon Singapura meningkat dari 5 dollar AS per ton emisi menjadi 25 dollar AS per ton mulai tahun 2024. Tarif akan dinaikkan menjadi 45 dollar AS per ton pada tahun 2026 dan 2027, dengan rencana tarif akan mencapai antara 50 dollar AS dan 80 dollar AS pada tahun 2030.

"Jika Singapura tidak mampu melakukan dekarbonisasi pada sektor listriknya, negara tersebut akan berisiko kehilangan perusahaan yang berkomitmen untuk mengurangi emisi terkait penggunaan energi," kata Ali Izadi-Najafabadi, kepala organisasi riset Bloomberg New Energy Finance (BloombergNEF) untuk Asia-Pasifik.

Ini berarti perusahaan yang berjanji untuk beralih sepenuhnya ke energi terbarukan di bawah inisiatif global RE100 (Renewable Energy 100%), dari Apple hingga Google, kemungkinan akan mempertimbangkan kembali Singapura sebagai basis operasi.

Ketiga, tanpa mengambil langkah untuk beralih ke energi yang lebih ramah lingkungan, banyak manfaat, mulai dari peningkatan kesehatan hingga penciptaan lapangan kerja, tidak dapat terwujud.

Sebuah studi kelayakan AS-Singapura tentang konektivitas energi di Asia Tenggara menilai bahwa pembangunan jaringan listrik Asean tidak hanya akan menyediakan lebih banyak listrik hijau, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru, mengurangi polusi udara dari pembangkit listrik berbahan bakar batu bara, dan memompa investasi yang signifikan untuk sektor energi.

Ini akan mencakup investasi sebesar 2 miliar dollar AS setiap tahunnya untuk penelitian dan pengembangan, dan 1,4 triliun dollar AS secara kumulatif untuk membangun kapasitas pembangkitan listrik.

Sektor manufaktur di kawasan itu juga akan menerima dorongan, dengan permintaan yang lebih besar untuk panel surya, baterai, dan kabel.

Di tengah meningkatnya biaya hidup, gagasan tentang kenaikan harga utilitas merupakan hal yang sulit diterima. Namun, kita tidak boleh mengabaikan biaya yang lebih tinggi akibat tidak bertindak, karena perubahan iklim terus menghancurkan kehidupan dan mata pencaharian di seluruh dunia.

"Biaya tindakan mungkin tampak tidak mengenakkan dalam jangka pendek, tetapi biaya tidak bertindak tidak dapat dipertahankan dalam jangka panjang," kata David Broadstock, kepala penelitian transisi energi di NUS (National University of Singapore) Sustainable and Green Finance Institute.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Daerah
Produk UMKM Dipromosikan Le...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.