Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Tanpa Upaya untuk Menjauhi Bahan Bakar Fosil, Akan Meningkatkan Dampak Perubahan Iklim

4 Senin, 28 Okt 2024, 00:01 WIB | Oleh:
Tanpa Upaya untuk Menjauhi Bahan Bakar Fosil, Akan Meningkatkan Dampak Perubahan Iklim Tanpa Upaya untuk Menjauhi Bahan Bakar Fosil, Akan Meningkatkan Dampak Perubahan Iklim Doc: istimewa
Ket. Singapura akan mengimpor energi surya dari Australia melalui kabel sepanjang lebih dari 4.000 kilometer.

SINGAPURA - Konferensi energi "Pekan Energi Internasional Singapura", yang diadakan pada Senin (21/10) hingga Jumat (25/10), mengangkat tema biaya transisi global dari bahan bakar fosil sebagai poin utama diskusi.

Dikutip dari The Straits Times, tetapi yang kurang dibicarakan saat itu adalah bagaimana biaya-biaya ini akan dibandingkan dengan biaya jika tidak melakukan apa-apa.

Tidak dapat dipungkiri bahwa transisi energi global akan membutuhkan biaya. Bahan bakar fosil telah menggerakkan perekonomian selama beberapa dekade, dan meninggalkan status quo ini tidak akan mudah atau murah.

Misalnya, Singapura mengumumkan selama acara tersebut mereka telah memberikan persetujuan bersyarat bagi sebuah perusahaan untuk mulai mengimpor energi surya dari Australia melalui kabel sepanjang lebih dari 4.000 kilomter, dalam proyek besar yang diperkirakan menelan biaya 24 miliar dollar AS.

Kemudian, ada pula biaya untuk meningkatkan infrastruktur jaringan, karena jaringan transmisi harus diperkuat agar memungkinkan pemindahan listrik yang andal dari berbagai sumber pembangkitan, entah itu ladang tenaga surya di Australia atau bendungan pembangkit listrik tenaga air di Laos, menuju rumah-rumah dan kantor-kantor.

Pada konferensi tersebut, pimpinan perusahaan minyak terbesar di dunia, Aramco, bahkan mengatakan bahwa "tidak realistis" dan "terlalu mahal" bagi negara-negara berkembang untuk beralih dari bahan bakar fosil, karena negara-negara ini akan membutuhkan "jumlah modal awal yang sangat besar" untuk mendorong transisi tersebut.

Tetapi berfokus hanya pada biaya transisi akan mengabaikan gambaran yang lebih besar, terutama dengan dampak iklim yang sudah dirasakan di sini dan saat ini.

Pada akhir September, Nepal dilanda banjir musim hujan dan tanah longsor parah yang menewaskan lebih dari 200 orang. Banjir menggenangi permukiman dan merusak jalan raya serta pembangkit listrik tenaga air, dengan kerugian diperkirakan sedikitnya 127 juta dollar AS.

Sedangkan Filipina utara masih dilanda Badai Tropis Trami, yang telah menyebabkan lebih dari 150.000 orang mengungsi dan menewaskan sedikitnya 70 orang. Perkiraan awal menyebutkan kerusakan pada pertanian dan infrastruktur mencapai 291 juta peso.

Tidak melakukan tindakan apa pun, atau meneruskan kegiatan seperti biasa, tanpa upaya untuk menjauhi bahan bakar fosil, akan lebih mahal, dalam sejumlah hal. Pertama, meningkatnya dampak perubahan iklim.

Walaupun Singapura menyumbang 0,1 persen emisi gas rumah kaca dunia, Republik ini sangat rentan terhadap dampak seperti kenaikan permukaan air laut dan panas ekstrem.

Banjir dan kekeringan hebat di wilayah tersebut dan di tempat lain dapat memengaruhi ketahanan pangan Singapura. Ketika Malaysia dilanda banjir pada awal tahun 2023, pasar basah menghadapi gangguan pasokan impor sayur, dengan sejumlah kios dilaporkan menaikkan harga hasil bumi.

Laporan terkini oleh Program Lingkungan PBB menemukan kebijakan iklim saat ini akan menyebabkan pemanasan global yang dahsyat hingga 3,1 derajat C pada akhir abad ini. Dunia telah menghangat sekitar 1,3 derajat C di atas tingkat pra-industri, dan tujuan Perjanjian Paris, yang tampaknya semakin tidak tercapai, bertujuan untuk membatasi pemanasan hingga 1,5 derajat C.

Kedua, ada biaya yang harus dikeluarkan jika tidak melakukan transisi juga.

Banyak pemerintah dan lembaga keuangan di seluruh dunia menanggapi sains dan memperketat kebijakan mereka, dengan tujuan untuk menekan emisi karbon. Misalnya, lebih banyak negara kini menetapkan harga karbon untuk memaksa perusahaan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, dan semakin banyak pula bank yang berjanji untuk tidak mendanai pembangkit listrik tenaga batu bara.

Tarif pajak karbon Singapura meningkat dari 5 dollar AS per ton emisi menjadi 25 dollar AS per ton mulai tahun 2024. Tarif akan dinaikkan menjadi 45 dollar AS per ton pada tahun 2026 dan 2027, dengan rencana tarif akan mencapai antara 50 dollar AS dan 80 dollar AS pada tahun 2030.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Andrea Bocelli Bikin Jakarta Terpukau! Konser Romanza Hadirkan Malam Penuh Keajaiban
    Salut banget dengan konser Andrea Bocelli sangat mengharumkan ...
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Anggota DPR: Penyadapan ke Presiden Kasus Luar Biasa, Polri Harus Ungkap Siapa Aktor Utamanya

Anggota DPR: Penyadapan ke Presiden Kasus Luar Biasa, Polri Harus Ungkap Siapa Aktor Utamanya

04 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.