Kasus Tuberkulosis di Indonesia Melonjak, Pemerintah Harus Segera lakukan Ini
📅 Selasa, 01 Okt 2024, 15:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation/Zero TB Yogyakarta
Ronny Soviandhi, Universitas Gadjah Mada dan Ari Probandari, Universitas Sebelas Maret
Tuberkulosis (TB) masih menjadi penyakit prioritas yang harus dituntaskan pemerintah Indonesia bahkan dunia. Infeksi mematikan akibat bakteri Mycobacterium tuberculosis ini bisa menyerang berbagai organ tubuh, terutama paru-paru yang paling sering terinfeksi.
Pada tahun 2022, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sebanyak 10,6 juta orang di seluruh dunia terjangkit TB. Di tahun yang sama, TB menyebabkan 1,3 juta orang meninggal dunia.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada tahun 2021 memperkirakan ada 969.000 pasien TB di Indonesia. Namun, setahun berselang, penemuan kasus TB hanya mencapai 724.309 kasus atau 75%. Artinya, terdapat 25% kasus yang belum terdeteksi ataupun tidak terlaporkan di tahun 2022.
Terbaru, Kemenkes melaporkan total penemuan kasus TB di Indonesia meningkat menjadi 809.000 pada 2023. Dengan begitu, Kemenkes berhasil menemukan 90% kasus baru TB selama dua tahun terakhir.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sejumlah faktor menyebabkan kenaikan temuan kasus TB, seperti perbaikan sistem deteksi dan pelaporan data yang real time hingga pengadaan laboratorium dan fasilitas kesehatan yang lebih baik.
Selain itu, peningkatan kasus TB disebabkan ada banyak kasus yang tidak dilaporkan (under-reporting) akibat pelayanan TB di Indonesia mengalami perubahan besar selama pandemi COVID-19. Hal ini memperlambat penanganan TB hingga menyebabkan penularan setempat.
Penyebab meningkatnya risiko kena TB
Sebaiknya Anda baca juga:
Gaya hidup seperti merokok turut meningkatkan risiko masyarakat Indonesia terkena TB. Pun, sejumlah masalah kesehatan, seperti malnutrisi, infeksi human immunodeficiency virus (HIV), dan diabetes bisa meningkatkan risiko seseorang terkena TB, berikut alasannya:
1. Merokok
Perokok aktif bahkan pasif rentan terkena TB karena aktivitas ini melemahkan sistem kekebalan tubuh. Selain itu, asap rokok bisa mengganggu kerja silia yang bertugas menghalau benda asing dari saluran pernapasan, termasuk bakteri.
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa orang yang merokok setiap hari kebanyakan berusia 45-54 tahun dan berjenis kelamin laki-laki. Menurut laporan Kemenkes pada 2022, kelompok paling banyak yang mengidap TB adalah umur 45-54 tahun dengan 16,5% dan laki-laki dengan 42,2%.
2. Malnutrisi
Malnutrisi alias kondisi kekurangan nutrisi, terutama pada anak, menyebabkan kerentanan terhadap penyakit infeksi, termasuk TB. Ketika indeks massa tubuh (IMT) berkurang akibat malnutrisi, risiko tertular TB semakin besar.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!