Kasus Tuberkulosis di Indonesia Melonjak, Pemerintah Harus Segera lakukan Ini
📅 Selasa, 01 Okt 2024, 15:30 WIB | Oleh: Tim Penulis1. Perbanyak active case finding
Pemerintah Indonesia harus lebih masif melakukan deteksi dini TB lewat active case finding (ACF), yaitu rangkaian pemeriksaan riwayat penyakit dan gejala TB. Aktivitas ini meliputi pemeriksaan dahak dan tuberkulin, protein murni yang dihasilkan bakteri penyebab TB. ACF juga melibatkan rontgen dada pakai sinar-x portabel.
Selama ini deteksi dini TB terhambat oleh keterbatasan akses ke fasilitas kesehatan. Karena itu, perlu dilakukan upaya "jemput bola" yang lebih masif lewat ACF.
ACF dilakukan dengan menentukan wilayah prioritas yang memiliki kasus TB terbanyak. Lalu, menentukan target sasaran ACF, yaitu populasi kunci dan rentan menggunakan tes skrining yang lebih sensitif dan praktis, seperti rontgen dada portabel dengan atau tanpa bantuan kecerdasan artifisial (AI) computer-aided diagnosis (CAD) yang masih memerlukan pengembangan lebih lanjut.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pemerintah juga perlu memprioritaskan delapan provinsi, terdiri atas 193 kabupaten/kota dengan kasus TB terbanyak sebesar 62% dari total kasus di seluruh Indonesia.
2. Tingkatkan pengobatan secara tuntas
Angka keberhasilan pengobatan TB bisa mencapai 90% atau lebih jika pengobatan dilakukan secara tuntas. Pengobatan tuntas TB membutuhkan waktu cukup lama, yaitu enam bulan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pengobatan yang tidak tuntas, termasuk kebiasaan terlambat minum obat, sering menjadi akar masalah TB resistensi obat. Artinya, bakteri penyebab TB menjadi kebal terhadap serangan obat sehingga penyakit ini makin sulit disembuhkan. Pengobatan yang tidak tuntas bisa disebabkan oleh dua faktor.
Pertama, perilaku masyarakat dalam mencari pengobatan yang didasari oleh minimnya pengetahuan seputar TB. Survei Prevalensi TB 2013-2014 menunjukkan bahwa hanya 26% pasien mencari pengobatan di fasilitas kesehatan, 43% tidak mencari pengobatan, dan 31% melakukan pengobatan sendiri. Kedua, kurangnya kapasitas penyedia layanan kesehatan turut menyebabkan tidak tuntasnya pengobatan pasien TB.
Laporan Kemenkes pada 2022 menunjukkan total kasus TB yang sudah tercatat dan diobati, hanya mencapai 86%. Berdasarkan fasilitas kesehatannya, angka keberhasilan pengobatan (treatment success rate) yang mencapai target nasional 90% hanya di pusat kesehatan masyarakat (puskesmas).
3. Perbanyak investigasi kontak dan terapi pencegahan
Investigasi kontak sebanyak 90% atau lebih harus dilakukan untuk menemukan pasien TB aktif maupun pasien infeksi laten TB (ILTB), kondisi ketika gejala TB tidak muncul karena tubuh pasien mampu mengendalikan Mycobacterium tuberculosis, tetapi sistem kekebalannya tidak sanggup mengeliminasi bakteri secara sempurna.
Mengidentifikasi dan mengobati pasien ILTB sangat penting untuk mencegah perkembangan infeksi menjadi TB aktif.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!