Kasus Tuberkulosis di Indonesia Melonjak, Pemerintah Harus Segera lakukan Ini
📅 Selasa, 01 Okt 2024, 15:30 WIB | Oleh: Tim PenulisPengobatan untuk ILTB menggunakan terapi pencegahan TB (TPT) yang pengobatannya harus dilakukan 80% atau lebih. TPT ditujukan untuk anak usia di bawah 5 tahun yang kontak erat dengan pasien TB aktif, ODHIV yang tidak terdiagnosis TB, dan populasi rentan lainnya.
Data Kemenkes pada 2022 menyebutkan kasus yang terdeteksi lewat investigasi kontak masih kecil, yaitu 35%. Pun, pemberian TPT pada kontak serumah hanya sebesar 1,3%. Pemerintah harus terus mengejar target investigasi kontak dan terapi pencegahan TB.
4. Vaksinasi BCG menyeluruh
Kendati tidak selalu bisa melindungi seseorang dari risiko terinfeksi TB, vaksin Bacille Calmette-Guéirn (BCG) dapat mencegah keparahan infeksinya. Vaksin ini memungkinkan terjadinya hasil TB positif, tapi tidak bergejala (hasil positif palsu) ketika pemeriksaan TB dilakukan lewat tuberculin skin test (TST) atau mantoux test. Sampai saat ini belum ada vaksin berlisensi yang bisa mencegah infeksi TB.
Sebaiknya Anda baca juga:
BCG sendiri memiliki daya lindung yang bervariasi, antara 70-80% pada populasi berbeda, seperti bayi baru lahir atau remaja. Perlindungan vaksin akan melemah seiring waktu, bahkan seseorang tetap dapat terinfeksi TB meskipun sudah divaksinasi.
Meski begitu, vaksinasi BCG sudah diwajibkan dan menjadi imunisasi dasar di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2023 melaporkan bahwa vaksinasi BCG sudah mencapai 88,9% dari target 95%.
Karena itu, pemerintah perlu meningkatkan proporsi pemberian BCG secara menyeluruh, terutama di kawasan dengan pemberian vaksinasi BCG paling sedikit, seperti Provinsi Papua Pegunungan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Peningkatan temuan kasus TB menunjukkan perkembangan program penanganan TB di Indonesia. Namun, pemerintah perlu bergerak cepat dengan melakukan langkah-langkah strategis di atas agar temuan ini tidak sia-sia dan target eliminasi TB di tahun 2030 bisa tercapai.![]()
Ronny Soviandhi, Assistant researcher, Center for Tropical Medicine, Universitas Gadjah Mada dan Ari Probandari, Professor of Public Health, Universitas Sebelas Maret
Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!