Ishiba Berencana Gelar Pemilu Dini
📅 Selasa, 01 Okt 2024, 02:50 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: AFP/JIJI Press
Perdana Menteri Jepang terpilih, Shigeru Ishiba, pada Senin (30/9) mengatakan bahwa ia berencana untuk mengadakan pemilu dini pada 27 Oktober mendatang. Ishiba secara resmi dilantik sebagai perdana menteri pada Selasa (1/10) setelah ia memenangkan kepemimpinan partai yang berkuasa.
Perebutan kepemimpinan Partai Demokrat Liberal (LDP), yang telah memerintah di Jepang hampir tanpa gangguan selama beberapa dekade, berlangsung sengit pada Jumat (27/9) lalu, setelah Ishiba bersaing dengan kandidat sayap kanan, Sanae Takaichi.
Ishiba mengkonfirmasi laporan media pada Senin bahwa ia bermaksud untuk mengadakan pemilu dini dengan mengatakan bahwa hal itu sangat penting bagi pemerintah baru untuk dinilai oleh rakyat sesegera mungkin.
Dalam kampanyenya pada Jumat, Ishiba berjanji untuk memulihkan kepercayaan terhadap LDP setelah terjadi skandal yang mencoreng kepemimpinan sebelumnya dan akan memperkuat hubungan pertahanan di antara negara-negara tetangga yang terguncang oleh provokasi Tiongkok baru-baru ini.
"Ia (Ishiba) sedang mempertimbangkan untuk mengangkat Katsunobu Kato, mantan kepala sekretaris kabinet yang mencalonkan diri dalam pemilihan kepemimpinan LDP, sebagai menteri keuangan," menurut laporan media.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Jenderal Nakatani, mantan menteri pertahanan veteran, akan kembali ke tugas lamanya, sementara Takeshi Iwaya, mantan menteri pertahanan lainnya, akan masuk sebagai menteri luar negeri," imbuh laporan tersebut.
Mantan PM Kishida sebelumnya telah berjanji untuk menggandakan anggaran pertahanan dan memperdalam kerjasama militer dengan Amerika Serikat (AS) dan sekutu lainnya di kawasan yang terguncang oleh kebangkitan Tiongkok dan Korea Utara (Korut) yang tidak dapat diprediksi.
Kebijakan Ekonomi
Sebaiknya Anda baca juga:
Ishiba dikenal karena mendukung pembentukan NATO Asia dan mengatakan Jepang harus menanggapi lebih keras pelanggaran wilayah udara atau perairannya oleh Tiongkok atau Russia, seperti yang telah terjadi berulang kali dalam beberapa pekan terakhir.
Namun, masih ada pertanyaan mengenai bagaimana pemerintah berencana untuk membiayai peningkatan tersebut dan juga mencari cukup banyak rekrutan untuk militer di tengah populasi Jepang yang menyusut.
Taro Saito, ekonom senior di NLI Research Institute, mengatakan kepada AFP bahwa Ishiba sejauh ini berfokus pada cara meningkatkan keuangan publik di Jepang, yang memiliki salah satu utang tertinggi di dunia.
"Dia tampaknya tidak begitu tertarik dengan kebijakan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, meskipun yang paling penting bagi Jepang adalah pertumbuhan yang rendah daripada kesehatan fiskal," kata Saito. AFP/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!