Survei Ungkap Makin Banyak Orang yang Percaya Alien, Mengapa Ini Berbahaya?
📅 Selasa, 17 Sep 2024, 13:41 WIB | Oleh: Tim PenulisDampak Bagi Masyarakat
Semua ini pada akhirnya mendorong teori konspirasi, yang dapat merusak kepercayaan terhadap lembaga-lembaga demokrasi. Belakangan bahkan ada seruan-seruan lucu untuk menyerbu Area 51. Setelah insiden penyerbuan Capitol pada 2021, seruan-seruan seperti ini tentu tak bisa lagi dianggap sebagai lelucon semata. Hal-hal tersebut bisa saja berubah menjadi ancaman serius.
Selain itu, kegaduhan soal UFO dan UAP dapat mengganggu komunikasi sains yang sesungguhnya mengenai kemungkinan adanya kehidupan mikrobial di luar angkasa. Astrobiologi, ilmu yang mempelajari hal ini, jauh kalah populer dibandingkan ufologi yang lebih menarik perhatian publik.
Sebagai perbandingan, acara seperti "Alien Kuno" di History-sebuah saluran YouTube milik Disney saat ini telah mencapai season ke-20 dengan 13,8 juta pelanggan, sementara saluran astrobiologi NASA hanya memiliki 20.000 pelanggan. Ilmu pengetahuan nyata kalah telak dari hiburan yang dikemas sebagai fakta.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di samping itu, narasi kunjungan alien juga sering membajak sejarah dan mitologi asli masyarakat.
Fiksi ilmiah Alexander Kazantsev, Explosion: The Story of a Hypothesis (1946) misalnya, menggambarkan peristiwa jatuhnya meteorit Tunguska pada 1908 sebagai ledakan mirip Nagasaki dari mesin pesawat ruang angkasa alien. Dalam cerita Kazantsev, seorang wanita kulit hitam raksasa yang selamat dari ledakan tersebut digambarkan memiliki kekuatan penyembuhan khusus. Dia kemudian diangkat sebagai pawang oleh masyarakat Evenki, sebuah komunitas adat di Siberia.
Sementara NASA dan komunitas sains antariksa mendukung upaya-upaya seperti inisiatif Native Skywatchers yang dibentuk oleh masyarakat adat Ojibwe dan Lakota untuk melestarikan kisah tentang bintang-bintang. Para penggemar teori alien lebih suka memadukan mitologi ini dengan kisah UFO yang dikemas ulang sebagai "sejarah tersembunyi."
Sebaiknya Anda baca juga:
Narasi modern tentang kunjungan alien nyatanya tidak berasal dari budaya adat, melainkan dari pemikir konspirasi di Eropa yang menggunakan teori ini untuk "menjelaskan" bagaimana munculnya peradaban di wilayah lain seperti Amerika Selatan sebelum kedatangan bangsa Eropa.
Pengaruh budaya tandingan era 1960-an, telah mengubah narasi ini, mengklaim bahwa masyarakat adat di masa lalu pernah memiliki teknologi canggih seperti yang digambarkan dalam fiksi. Menurut pandangan ini, setiap peradaban adat kuno digambarkan seperti Wakanda, negara fiksi dalam buku komik Amerika yang diterbitkan oleh Marvel.
Jika pandangan ini hanya dianggap sebagai bagian dari hiburan fiksi, mungkin tidak menjadi masalah. Namun, kenyataannya, narasi kunjungan alien seringkali menggantikan cerita rakyat asli tentang langit dan bumi.
Masalah ini tidak hanya berdampak pada masyarakat adat yang berjuang mempertahankan tradisi otentik mereka, tetapi juga mengancam pemahaman kita tentang masa lalu. Ketika membahas warisan nenek moyang kita, sisa-sisa cerita rakyat prasejarah sangat sedikit dan bernilai tinggi, seperti dalam kisah-kisah asli tentang bintang-bintang.
Ambil contoh kisah-kisah tentang Pleiades, yang telah ada dalam mitos dan cerita rakyat setidaknya sejak 50.000 tahun yang lalu.
Beberapa penggemar teori kunjungan alien dan fiksi ilmiah mengaitkan gugus bintang Pleiades dengan peradaban luar angkasa canggih dan seringkali menggambarkan makhluk luar angkasa yang berasal dari sana. Beberapa orang bahkan mengklaim diri mereka sebagai "Pleiadean," mengaku memiliki hubungan langsung dengan bintang-bintang ini, meskipun klaim tersebut biasanya tidak didukung oleh bukti ilmiah.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!