Studi: Selamatkan Hutan di Asia Tenggara untuk Atasi Perubahan Iklim
📅 Selasa, 17 Sep 2024, 00:03 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SJika keanekaragaman pohon di wilayah tersebut hilang, hubungan tak berwujud yang mereka miliki dengan kuliner dan budaya unik wilayah tersebut pun ikut terputus.
"Bisa jadi warisan budaya akan hilang, atau kita bisa kehilangan potensi untuk menemukan spesies yang belum diketahui dengan khasiat obat yang penting. Sebagian besar keanekaragaman hayati di wilayah ini masih belum diketahui, begitu pula potensi manfaatnya bagi masyarakat yang belum dimanfaatkan," kata Pang.
Pang mencontohkan pohon kamper (Dryobalanops aromatica), yang dikenal sebagai penghasil kamper Kalimantan, resin aromatik yang sangat berharga yang digunakan dalam pengobatan tradisional dan upacara keagamaan. Ada tiga pohon kamper yang terdaftar sebagai pohon warisan di Singapura.
Kayunya juga sangat berharga, dan menyediakan tempat berlindung dan habitat bagi banyak hewan. "Namun meskipun berharga, spesies ini terancam oleh eksploitasi berlebihan untuk kayu dan resinnya," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Contoh lain adalah pohon bunuh diri (Cerbera odollam), yang merupakan spesies pesisir dan bakau.
Tanaman ini disebut demikian karena sifat racunnya, dan dulunya digunakan untuk meracuni hewan, kata Pang. "Meskipun reputasinya buruk, tanaman ini juga memiliki manfaat medis, termasuk pengobatan penyakit kulit dan gigitan ular."
Pang mengatakan, penelitian tersebut ingin menekankan bahwa pilihan yang kita buat saat ini dapat memiliki implikasi bagi kekayaan kehidupan pepohonan di wilayah tersebut."Ada beberapa hal yang harus dikorbankan ketika kita menjauh dari skenario berkelanjutan," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Kerugian secara keseluruhan paling parah terjadi ketika perubahan penggunaan lahan sangat luas, tetapi perubahan iklim yang ekstrem menyebabkan lebih banyak spesies yang terancam punah. Bagaimana seseorang bisa mengatakan bahwa salah satu hasil lebih buruk daripada yang lain?"
Direktur kebijakan senior di organisasi non-pemerintah Conservation International yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, Rahman Adi Pradana, mengatakan, para pembuat kebijakan menjadi lebih sadar akan keterkaitan antara perubahan iklim dan kebijakan sektoral lainnya, termasuk perubahan penggunaan lahan.
Namun, mereka terkadang harus berkompromi antara melindungi ekosistem penting dan mengubahnya untuk kebutuhan pembangunan manusia dan ekonomi, katanya.
Pradana mencontohkan di Asia Tenggara, di mana hutan, lahan gambut atau hutan bakau diubah menjadi pemukiman dan infrastruktur, atau untuk pertanian dan pertambangan.
"Perencanaan tata ruang dapat menjadi alat penting untuk mengelola risiko terhadap ekosistem akibat perubahan penggunaan lahan," ungkapnya kepada ST.
"Namun, hal ini hanya berlaku jika perencanaan tata ruang bertujuan untuk melindungi layanan ekosistem yang penting bagi pembangunan manusia dan mengatasi perubahan iklim, termasuk memastikan bahwa ekosistem hutan, lahan gambut, dan bakau terus berkontribusi terhadap ketahanan air dan pangan."
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!