Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kekerasan Verbal di Ruang Digital, Bagaimana Mencegahnya?

📅 Selasa, 10 Sep 2024, 14:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Kekerasan Verbal di Ruang Digital, Bagaimana Mencegahnya? Doc: The Conversation/Shutterstock/Linaimages
Ket. Kekerasan verbal tak mengenal waktu dan tempat.

Arif Perdana, Monash University

Di era digital yang serba terhubung ini, kekerasan verbal online menjadi ancaman yang semakin meresahkan. Laporan WHO mengungkapkan bahwa satu dari enam anak menjadi korban perundungan siber pada tahun 2024.

Survei UNICEF tahun 2019 di 30 negara menunjukkan sepertiga remaja pernah mengalami pelecehan di dunia maya. Bahkan, satu dari sepuluh remaja terlibat konflik fisik akibat perundungan online.

Parahnya, fenomena ini tidak terbatas pada kelompok usia tertentu. Dari anak-anak hingga orang dewasa, bahkan di lingkungan profesional, kekerasan verbal online bisa saja terjadi. Sebab, kekerasan verbal online dapat dilakukan secara anonim, terus menerus, dan menyebar, sehingga membutuhkan solusi multidimensi.

Di bawah lindungan anonimitas

Kekerasan verbal online hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari perundungan digital, pelecehan seksual online, hingga ujaran kebencian di media sosial.

Anonimitas menjadi salah satu faktor kunci yang mendorong tindakan ini. Dengan bersembunyi di balik layar, pelaku merasa lebih berani dan tidak terbebani konsekuensi langsung dari ucapannya.

Ini menciptakan ilusi kekebalan yang mendorong perilaku agresif. Ini juga yang menyebabkan ekosistem game online dan media sosial sangat rentan dengan perundungan digital.

Selain itu, efek 'disinhibisi' online-kurangnya empati akibat tidak bertatap muka langsung- juga berperan besar.

Anonimitas dan efek 'disinhibisi' online memicu lebih banyak trolling. Trolling adalah perilaku online yang sengaja memprovokasi atau menghina orang lain untuk memicu reaksi emosional.

Trolling bisa menjadi hiburan gelap bagi sebagian orang. Mereka menikmati melihat orang lain menderita dan mendapatkan reaksi emosional dari korban.

Trolling biasanya dianggap salah karena bisa menyakiti orang lain. Namun, trolling juga bisa diterima, misalnya, saat mengungkap kemunafikan, menantang kemarahan yang tidak berdasar, atau mempertahankan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Trolling seperti ini dilakukan untuk menunjukkan kelemahan atau cacat dalam logika atau moralitas di balik perilaku atau pandangan seseorang atau kelompok, bukan menyerang pribadi.

Mengapa kekerasan verbal cepat viral

Berbagai faktor di atas diperburuk oleh algoritma, yang membuat konten dengan reaksi emosional kuat, seperti trolling, mudah dibagikan dan dikomentari. Akibatnya, dampak dan jangkauan konten-konten semacam ini semakin luas.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Luar Negeri
Pentagon Tutup Mulut soal E...
Megapolitan
Urus SIM Tak Repot Lagi, Ad...
Daerah
Pemulihan sawah pascabencan...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.