Kekerasan Verbal di Ruang Digital, Bagaimana Mencegahnya?
📅 Selasa, 10 Sep 2024, 14:15 WIB | Oleh: Tim PenulisAlgoritma juga bahkan menciptakan ruang gema. Dalam proses ini, ruang gema terbentuk ketika pengguna hanya melihat informasi yang memperkuat keyakinan mereka sendiri, mengisolasi pandangan yang berbeda, dan memperburuk polarisasi serta sikap ekstrem di dunia maya.
Kompleksitas masalah ini semakin bertambah dengan adanya fenomena "mob mentality" di dunia maya, yaitu serangan verbal yang dilakukan secara massal dan terorganisir, sehingga menciptakan tekanan psikologis yang luar biasa bagi korban.
Contohnya, kematian penyanyi dan artis Korea Selatan akibat depresi berat karena perundungan digital. Di Indonesia, seorang selebgram melakukan kekerasan verbal di ruang digital terhadap murid SMK dan memviralkan videonya di Tiktok. Ini menyebabkan korban kehilangan kepercayaan diri dan terpengaruh secara psikologis.
Bahaya kekerasan verbal
Sebaiknya Anda baca juga:
Menganggap seseorang harus "kuat mental" di dunia maya adalah pandangan yang keliru dan berbahaya. Meski tak meninggalkan bekas fisik, kekerasan verbal online memiliki dampak yang tak kalah serius dengan kekerasan fisik. Bahkan, dalam beberapa aspek, dampaknya bisa lebih parah dan bertahan lebih lama.
Kekerasan verbal online bisa terjadi selama 24/7, menembus batas ruang dan waktu. Korban bisa mendapat serangan kapan saja, bahkan di tempat yang seharusnya aman seperti rumah. Ini menciptakan perasaan terancam yang konstan, memicu stres kronis yang berdampak pada kesehatan fisik dan mental.
Dari segi kesehatan mental, korban kekerasan verbal online berisiko mengalami depresi, kecemasan, dan dalam kasus ekstrem, keinginan bunuh diri. Penelitian menunjukkan bahwa remaja yang mengalami perundungan digital memiliki risiko tiga kali lebih tinggi untuk mencoba bunuh diri dibandingkan mereka yang tidak mengalaminya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Secara kognitif, paparan terus-menerus terhadap kekerasan verbal online dapat memengaruhi cara korban memandang diri sendiri dan dunia sekitarnya. Ini bisa mengakibatkan penurunan kepercayaan diri, isolasi sosial, dan kesulitan dalam membangun hubungan yang sehat di masa depan.
Kekerasan verbal online juga bisa berdampak pada kesehatan fisik. Stres kronis yang dialami korban dapat memicu berbagai masalah kesehatan seperti gangguan tidur, sakit kepala, dan bahkan melemahnya sistem kekebalan tubuh.
Lebih jauh, dampak kekerasan verbal online bisa meluas ke aspek profesional dan akademik. Korban mungkin mengalami penurunan produktivitas, kesulitan berkonsentrasi, atau bahkan memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan atau sekolah untuk menghindari pelaku perundungan.
Solusi dari banyak sisi
Mengatasi kekerasan verbal online membutuhkan pendekatan multidimensi yang melibatkan berbagai pihak, dari individu hingga pembuat kebijakan.
Di tingkat individu, edukasi tentang etika berinternet dan kesadaran akan dampak kata-kata kita di dunia maya sangat penting. Sekolah dan tempat kerja perlu menerapkan program literasi digital yang tidak hanya fokus pada keterampilan teknis, tapi juga aspek etika dan empati dalam berkomunikasi online, misalnya dengan memanfaatkan game edukasi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!