Ini Aksi Para Bidan untuk Perubahan Iklim: Menggalakkan Praktik Menyusui
📅 Sabtu, 03 Agu 2024, 13:32 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation/Shutterstock
Kusmayra Ambarwati, Universitas Respati Indonesia
Artikel ini terbit untuk merayakan Pekan Menyusui Sedunia pada 1-7 Agustus 2024.
Dalam survei enam negara di Asia Tenggara pada 2018, Indonesia menjadi negara nomor satu dengan konsumsi susu formula tertinggi. Sekitar 50% anak Indonesia usia 6 - 11 bulan mengonsumsi susu formula.
Padahal, konsumsi susu formula dapat berkontribusi terhadap perubahan iklim dan pencemaran lingkungan. Sebab, aktivitas pembukaan lahan untuk memproduksi formula, hingga pengangkutan, melepaskan emisi gas rumah kaca. Ini belum termasuk risiko pencemaran dari aktivitas produksi, limbah kemasan, dan penggunaan air yang begitu banyak untuk pembuatan susu formula.
Di Indonesia, konsumsi 340 ribu ton susu formula pada 2021 berkontribusi melepaskan 1.37 juta ton emisi gas rumah kaca setara CO2 ke atmosfer.
Sebaiknya Anda baca juga:
Studi pada 2024 menekankan perlunya usaha untuk mengurangi emisi susu formula melalui penggalakan praktik menyusui. Di sinilah peran bidan, sebagai tenaga kesehatan yang bersinggungan langsung dengan ibu dan bayi, menjadi sangat krusial. Tujuannya untuk mengurangi tekanan manusia bagi Bumi sejak lahir.
Peran besar bidan
Organisasi bidan dunia atau International Confederation of Midwives (ICM) menetapkan peran bidan dalam meredam perubahan iklim dengan menggalakkan praktik menyusui dan pelayanan ramah lingkungan. Sebab, bidan merupakan penyedia layanan utama dan pertama dalam perawatan langsung ibu dan bayi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bidan dapat memperkuat peran lingkungannya dengan menerapkan konsep "greenfeeding" yakni advokasi dan pendampingan menyusui bahkan kepada remaja. Bidan juga perlu menggalakkan edukasi terkait ASI di sela-sela pemeriksaan kehamilan.
Bidan pun bisa mendukung persalinan yang aman dan nyaman untuk mendorong greenfeeding. Misalnya, bidan dapat mengurangi intervensi medis yang dapat mengganggu menyusui seperti menghindari pemberian cairan intravena rutin, induksi dan atau augmentasi (untuk mempercepat persalinan) tanpa indikasi kedaruratan, dan pendampingan yang cukup untuk mengurangi risiko operasi sesar.
Sementara itu, di tahap pascapersalinan, bidan dapat mendampingi inisiasi menyusu dini (IMD), tidak memisahkan ibu dengan bayi tanpa indikasi medis, hingga edukasi ASI Eksklusif-menyusui hingga dua tahun atau lebih, serta mendukung ibu menyusui dan bekerja.
Praktik ramah lingkungan lain yang dapat dilakukan adalah pelayanan kebidanan berkelanjutan sejak pranikah hingga bayi lahir dan masa anak melalui penggalakan program keluarga berencana, dan pelayanan kebidanan menggunakan bahan reusable serta pemakaian teknologi tepat guna.
Bidan yang melakukan upaya ini dapat membantu pengurangan konsumsi susu formula, bahkan menghindarinya. Harapannya, jejak karbon dan dampak lingkungan lainnya yang disebabkan oleh penggunaan formula bisa berkurang.
Konflik kepentingan jadi sandungan
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!