Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Belajar dari 2 Gelembung Teknologi, Apakah Pamor AI akan Pecah lalu Pudar?

📅 Kamis, 01 Agu 2024, 14:13 WIB | Oleh: Tim Penulis

Kejatuhan sektor dot-com ditandai ketimpangan serius antara valuasi yang melambung dan kesehatan finansial yang sesungguhnya. Indeks Internet Bloomberg AS anjlok dari $2,9 triliun (dengan kurs saat ini setara Rp47.000 triliun) menjadi $1,1 triliun (Rp17.900 triliun), alias terpangkas lebih dari setengahnya.

Kontras mencolok di perusahaan seperti Cisco dan Yahoo! menunjukkan volatilitas investasi teknologi dan risiko overvaluasi. Keduanya mencapai valuasi tinggi saat puncak gelembung dot-com, lalu mengalami penurunan drastis setelahnya.

Cisco berhasil bertahan dan tetap relevan, sementara Yahoo! akhirnya kehilangan dominasi pasar.

Buyarnya gelembung berdampak luas pada ekonomi, termasuk kehilangan pekerjaan secara signifikan, khususnya di sektor telekomunikasi.

Meski diwarnai kekacauan, kejatuhan dot-com membawa manfaat jangka panjang. Pecahnya gelembung ini membuka jalan bagi pemahaman yang lebih realistis tentang potensi bisnis Internet.

Era ini juga menjadi penyaring yang meloloskan perusahaan-perusahan dengan model bisnis berkelanjutan bertahan di industri teknologi. Episode bersejarah tersebut menekankan risiko overvaluasi yang didasarkan pada tren dan menyoroti pentingnya dasar bisnis yang kuat.

Gelembung dot-com juga menjadi pelajaran penting bagi sektor teknologi yang sedang berkembang, seperti GenAI.

Gelembung kripto: aset digital dan demam spekulasi

Gelembung kripto muncul sebagai bentuk alternatif dari gelembung dot-com yang muncul dari demam spekulasi.

Berbeda dari gelembung dot-com, gelembung kripto memiliki karakteristik dan dampak yang berbeda. Gelembung kripto didorong oleh pesona inovatif teknologi blockchain dan mata uang kripto, sehingga mengalami lonjakan investasi spekulatif yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Salah satu pendorong utamanya adalah sindrom 'fear of missing out' (FOMO). Investor ramai-ramai terpikat oleh cerita tentang lonjakan nilai mata uang kripto, seperti Bitcoin, yang naik dari sekitar US$900 (Rp14,66 juta) menjadi hampir US$20 ribu (Rp325,87 juta) dalam waktu kurang dari setahun pada 2017.

Mereka yang tergoda oleh janji imbal hasil luar biasa kemudian menanamkan uang dalam berbagai aset digital dan penawaran koin perdana (ICO). Sialnya, banyak investor yang mengabaikan risiko dan naik-turun nilai komoditas ini.

Kendati begitu, struktur pasar kripto dan integrasinya (atau ketiadaannya) dengan sistem keuangan tradisional membuatnya berbeda dari skenario dot-com. Berbeda dengan kehancuran dot-com yang berdampak lebih luas pada ekonomi global, kehancuran kripto lebih berdampak ke aset digital. Sebagian dampak ini terjadi karena adopsi mata uang kripto yang relatif terbatas dalam keuangan arus utama saat gelembung meletus.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Penataan Ruang Publik Menyambut HUT DKI Jakarta

17 menit yang lalu | Fajar Alim M

Megapolitan
Penataan Ruang Publik Menya...
Daerah
Peringatan Hari Keamanan Pa...
Ekonomi
Program SPHP Kedelai Dukung...
Nasional
Pemerintah Perkuat SDM Mela...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.