Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Sumber Oksigen Bumi yang Tak Diketahui Ditemukan

📅 Rabu, 24 Jul 2024, 16:32 WIB | Oleh:
Sumber Oksigen Bumi yang Tak Diketahui Ditemukan Doc: ANTARA/Pexel/Tom Fisk
Ket. Ilustrasi bahari Indonesia Timur

JAKARTA - Para ilmuwan menemukan nodul atau bongkahan logam yang aneh yang menghasilkan oksigen dalam jumlah besar di dasar laut, menurut studi terbaru.

Sekelompok peneliti, yang studinya dipublikasikan di jurnal Nature, pada Senin percaya bahwa aktivitas elektrokimia dihasilkan oleh nodul polimetalik yang terbuat dari mangan dan besi.

Nodul itu terlihat seperti bongkahan batu bara dan diyakini bertanggung jawab untuk memecah molekul H2O.

"Kami memiliki sumber oksigen lain di planet ini, selain fotosintesis," kata Andrew Sweetman, rekan penulis studi, dan ahli ekologi dasar laut di Scottish Association for Marine Science di Oban, Inggris seperti dikutip Sputnik, Rabu.

Menurut Badan Atmosfer dan kelautan Amerika Serikat (NOAA), sekitar setengah oksigen di bumi berasal dari laut.

Produksinya biasanya dapat dikaitkan dengan plankton samudera, tumbuhan terapung, alga, dan bakteri tertentu, yang keempatnya mampu melakukan fotosintesis.

Para ilmuwan sedang mencari penjelasan di balik fenomena yang agak aneh bahwa di dasar Samudera Pasifik terdapat sejumlah besar oksigen yang dihasilkan oleh sumber yang tidak diketahui.

Temuan tersebut aneh, mengingat fotosintesis tidak mungkin terjadi di kedalaman yang begitu dalam dan gelap, kata para pakar.

Sweetman menambahkan bahwa temuan tersebut dapat mempunyai implikasi dalam memahami bagaimana kehidupan di Bumi pertama kali dimulai, serta kemungkinan dampak penambangan laut dalam di wilayah tersebut.

Sweetman pertama kali mengamati fenomena tersebut pada tahun 2013 saat mempelajari zona Clarion-Clipperton yang merupakan wilayah antara Meksiko dan Hawaii.

Pada saat itu Sweetman yakin dia memiliki peralatan yang rusak ketika peralatan tersebut menunjukkan bahwa oksigen sedang dibuat di dasar laut.

Nodul tersebut membutuhkan jutaan tahun untuk terbentuk dan terbuat dari mineral yang dapat digunakan untuk membuat baterai, sehingga membuka kemungkinan bahwa perusahaan pertambangan akan tertarik pada penemuan itu.

Meskipun mineral-mineral tersebut dapat membantu transisi menuju energi ramah lingkungan, para ilmuwan dan aktivis lingkungan percaya bahwa penambangan laut dalam dapat merusak ekosistem dengan cara yang tidak dapat diprediksi dan memengaruhi kemampuan laut untuk melindungi bumi dari dampak perubahan iklim.

Penambangan yang terjadi pada tahun 1980-an meninggalkan lingkungan yang bahkan bakteri pun belum dapat pulih, menurut ahli biologi kelautan. Ant

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Olahraga
Pelatih Timnas Indonesia Jo...

Defisit Migas Tekan Neraca Perdagangan

17 menit yang lalu | Lukman

Nasional
Defisit Migas Tekan Neraca ...
Nasional
RUU Perampasan Aset Jangan ...
Luar Negeri
Inggris Hadapi Ancaman Rese...
Nasional
RI Butuh Lebih Banyak Wirau...

Anugerah Jurnalistik KWP 2026

27 menit yang lalu | Fajar Alim M

Nasional
Anugerah Jurnalistik KWP 2026

Perwakilan ICRC Temui Aung San Suu Kyi

32 menit yang lalu | Deri Henriawan

Luar Negeri
Perwakilan ICRC Temui Aung ...
Olahraga
Kabar Gembira, Reno Salampe...

Kalah Telak di Piala AFF: Timnas Indonesia Dibungkam Vietnam 0-3

Kalah Telak di Piala AFF: Timnas Indonesia Dibungkam Vietnam 0-3

03 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.