Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

‘Swiftonomics’, Belajar dari Tur Taylor Swift yang Menguntungkan Singapura

📅 Kamis, 04 Jul 2024, 16:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
‘Swiftonomics’, Belajar dari Tur Taylor Swift yang Menguntungkan Singapura Doc: The Conversation Indonesia/Shinta Saragih/CC BY
Ket. Sketsa Taylor Swift.

Tommy Soesmanto, Griffith University

Ketika Taylor Swift mendendangkan "Shake It Off" waktu berkonser di suatu negara, ia mungkin dapat membantu perekonomian negara tersebut untuk shake off atau terlepas dari dampak perlambatan ekonomi global.

Sejak Bank Dunia mengumumkan kemungkinan resesi global dalam laporannya pada 2022, kekhawatiran dunia akan periode kontraksi ekonomi yang berkepanjangan melanda banyak negara.

Pada bulan Januari, Bank Dunia memperkirakan perekonomian global akan mengalami perlambatan untuk tahun ketiga secara berturut-turut di tahun 2024. Menurut pengamatan beberapa ahli, hal ini berpotensi menimbulkan resesi dalam waktu dekat.

Dampak dari resesi global bisa saja berbeda dari satu negara ke negara lain. Namun dengan terganggunya rantai pasokan dan arus modal, gejala dan dampak terhadap ekonomi yang umum terjadi adalah peningkatan angka pengangguran dan tingkat kemiskinan, kenaikan harga, penurunan laba, dan kebangkrutan (pailit) bagi para pelaku usaha.

Di tengah kekhawatiran ini, Swift, penyanyi dan penulis lagu dari Amerika Serikat (AS), mungkin punya satu solusi untuk mengatasi tantangan ini. Selain pembelajaran ekonomi mikro dan makro, 'Swiftonomics' dapat menjadi satu mata kuliah yang menarik-terutama dalam mendiskusikan dampak ekonomi dari tur global penyanyi multitalenta ini.

Tur yang memecahkan rekor

Eras adalah tur konser keenam dari Taylor Swift. Konser ini dimulai pada Maret 2023 dan dijadwalkan berakhir pada Desember 2024. Terdiri dari 152 pertunjukan yang ditampilkan di lima benua, para kritikus memberikan ulasan yang sangat positif untuk desain estetika konser yang megah dan suasana konser yang immersive-menggabungkan pengalaman nyata dan digital sehingga menghasilkan keterlibatan mendalam atau penuh.

Tur ini berhasil menjadi tur musik terlaris sepanjang sejarah, dan menjadi tur yang pertama mencapai total penjualan tiket sebesar US$1 miliar (sekitar Rp 16.38 triliun) secara global. Yang lebih mengesankan lagi, jumlah tersebut belum termasuk penjualan film Eras Tour yang kabarnya menghasilkan US$250 juta (setara Rp 4.1 triliun), ditambah lagi merchandise senilai US$200 juta (setara Rp 3.3 triliun) yang terjual selama tur tersebut.

Lalu, apa hubungan tur ini dengan resesi global?

Multiplier effect musik

Mahasiswa jurusan ekonomi tingkat satu harusnya bisa memahami bahwa dampak dari tur Taylor Swift tidak hanya terbatas pada angka-angka fantastis yang diuraikan di atas. Faktanya, tur ini bisa memberikan efek berganda (multiplier effect) yang bisa membangkitkan perekonomian negara yang dikunjungi.

Secara sederhana, efek berganda mengukur bagaimana perubahan dalam aktivitas ekonomi, seperti investasi ataupun pembelanjaan negara, berpotensi mempunyai dampak yang lebih besar terhadap sektor ekonomi yang lain dan total penghasilan suatu negara.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar

Insiden Kapal Virgo: 1 Penumpang Meninggal, 125 Dalam Pencarian

50 menit yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Daerah
Insiden Kapal Virgo: 1 Penu...
Advertisement
Cuaca Buruk, Kapal Virgo Transport Membawa 243 Orang Hilang Kontak di Laut Jawa

Cuaca Buruk, Kapal Virgo Transport Membawa 243 Orang Hilang Kontak di Laut Jawa

13 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.