Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Tuntutan Hukum terkait Perubahan Iklim terhadap Perusahaan di Dunia Meningkat

📅 Jumat, 28 Jun 2024, 00:01 WIB | Oleh:
Tuntutan Hukum terkait Perubahan Iklim terhadap Perusahaan di Dunia Meningkat Doc: istimewa
Ket. Pada tahun 2023, kasus terhadap perusahaan mencakup seperempat dari 233 tuntutan hukum yang diajukan secara global pada tahun itu saja.

PARIS - Menurut sebuah laporan dari Grantham Research Institute di London School of Economics, pada hari Kamis (27/6), perusahaan-perusahaan di seluruh dunia menghadapi tekanan hukum yang semakin besar untuk mengurangi dampaknya terhadap pemanasan global ketika para aktivis menggunakan litigasi untuk melawan perubahan iklim.

Sejak Perjanjian Paris tahun 2015, 230 tuntutan hukum yang "selaras dengan iklim" telah diluncurkan terhadap perusahaan dan asosiasi perdagangan, lebih dari dua pertiganya diajukan sejak tahun 2020.

"Kasus-kasus terhadap perusahaan-perusahaan biasanya terfokus pada sektor bahan bakar fosil, namun kini kasus-kasus tersebut diluncurkan ke sektor-sektor lain, termasuk maskapai penerbangan, industri makanan dan minuman, e-commerce, dan jasa keuangan," kata laporan itu.

Dikutip dari France 24, keputusan pengadilan Belanda pada tahun 2021 terhadap raksasa minyak multinasional Shell, yang diperintahkan untuk mengurangi emisi CO2 sebesar 45 persen pada tahun 2030, telah menjadi tonggak sejarah dalam litigasi iklim.

Tuduhan "pencucian iklim" atau pemasaran yang menyesatkan menjadi salah satu penyebab munculnya kasus-kasus yang menimpa perusahaan baru-baru ini.

Tahun lalu, pengadilan Inggris melarang iklan dari Air France, Lufthansa, dan Etihad karena khawatir iklan tersebut menyesatkan pelanggan, yang terjadi beberapa bulan setelah keputusan serupa di Wina terhadap Austrian Airlines.

Kasus-kasus lain didasarkan pada prinsip bahwa "pencemar membayar" atau berupaya "mematikan keran" proyek bahan bakar fosil baru dengan menargetkan aliran pembiayaan ke industri ekstraktif.

"Kurang dari sepersepuluh dari total 2.666 tuntutan hukum yang diajukan hingga saat ini di seluruh dunia adalah melawan korporasi," kata laporan yang menggunakan data dari Sabin Center for Climate Change Law di Columbia Law School itu.

"Seringkali pemerintahlah yang menjadi pihak yang tergugat. Namun pada tahun 2023, kasus terhadap perusahaan mencakup seperempat dari 233 tuntutan hukum yang diajukan pada tahun itu saja," kata laporan itu.

Pada bulan September, negara bagian California mengambil peran sebagai penggugat, menggugat lima perusahaan minyak terbesar di dunia dengan tuduhan menyebabkan kerugian miliaran dolar dan menyesatkan publik dengan meremehkan risiko dari bahan bakar fosil.

Meskipun secara historis, sebagian besar tuntutan hukum diajukan di Amerika Serikat, yang mencakup 1.745 kasus, tindakan semakin banyak dilancarkan di yurisdiksi lain.

Portugal mengajukan kasus pertamanya tahun lalu atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia karena gagal menerapkan kebijakan perubahan iklim, seperti halnya Panama terkait proyek pertambangan.

"2023 adalah tahun yang penting bagi litigasi perubahan iklim internasional, dengan pengadilan dan tribunal internasional utama diminta untuk mengambil keputusan dan memberikan nasihat mengenai perubahan iklim," kata laporan itu.

Pengadilan Hak Asasi Manusia Antar-Amerika dijadwalkan memberikan pendapat penasehat tahun ini mengenai tugas suatu negara ketika "menanggapi darurat iklim di bawah kerangka hukum hak asasi manusia internasional", menyusul kasus yang diajukan oleh Chile dan Kolombia pada Januari 2023.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Citilink Flight Sale 231026 Halaman Rubrik
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.